Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

SEINDAH MATA KRISTALNYA

Cerpen Karya Mayoko Aiko

Malam bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan. Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian.
Pukul dua dinihari.

Aku menyeka sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan, Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!

***

"Hei, Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu, Kristal?" Suatu hari enam bulan lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu.
Janna menatapku.
"Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan dijaga?" sahut Jannya yakin.
Aku menggeleng sembari tersenyum.
"Karena aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng.
"Dih, memangnya aksesoris?" ledekku.
Janna mengernyitkan keningnya.
"Karena aku seorang gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?" pancingnya, bertanya.
Lagi-lagi aku menggeleng.
"Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku.
"Karena kamu mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari menikmati mata indah milik gadis itu.
Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil menggigit bibirnya sendiri.
"Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga. Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu," kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu.
Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat, dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku.
"Kamu tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang diberikan hari kemarin.
"Apa, Re?" bisik Janna lirih.
"Aku tidak ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum. Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat.
"Trims, Re. Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan kalimat itu.
Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA. Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah menjadi bagian dari hari-hari Janna.
Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah Janna.

***
JANGAN SAKITI HATINYA

Lalu semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku tidak tega melihatnya.
"Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran fisika, aku menghampiri meja Janna.
Mata Janna sejenak berbinar menatapku. Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut.
"Re, kita ke kantin, ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa.
"Kamu mau traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku pelajaran yang berceceran di meja belajarnya.
"Ada yang ingin kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori Einstein dari papan tulis.
"Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi. Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja.
Janna mengangguk.
"Problem apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku. Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu berubah kelabu?!
"Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna.
"Terlalu privacy?"
Janna mengangguk lagi.
"Kantin pasti ramai. Bagaimana kalau kita ke cafe Pelangi?"
"Oke, Re. Kita ke cafe," jawab Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.

***
CINTA MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA

Cafe Pelangi terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe.
"Kamu mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?"
Aku tersenyum.
"Aku akan terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap.
"Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna.
"Teh botol, ya?" tawarku.
"Terserah kamu saja."
Aku memesan dua teh botol dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan.
Janna menatapku sejenak. Gadis itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya.
"Soal Bian, Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?"
Janna mengangguk.
Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba di meja kami.
"Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius.
Janna menatapku dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih.
Sesuatu mengiris ulu hatiku!
Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu dari pipinya.
"Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu.
Janna menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega melakukan itu."
Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna.
"Kamu yakin Bian mengkhianati kamu?"
"Aku memergoki sendiri, Bian berjalan dengan mesra dengan seorang cewek."
"Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau sebenarnya dia tidak mencintai aku!"
Aku tersedak.
"Begitu?!"
"Ya, Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru. Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras.
"Berarti Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!" Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan dengan keras.
"Ja-jangan, Re!"
"Kristal, aku pernah berjanji, aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!"
"Aku tahu, Re. Tapi bukan itu yang aku inginkan." Janna menghela napas.
Di luar cafe, angin bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya.
"Aku hanya ingin meminta maaf, Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut. Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah.
"Lupakanlah, Kristal. Aku maklum."
"Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku dengan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang terbaik, Kristal."
Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.

***
SESUNGGUHNYA AKU CINTA KAMU

Siang, sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus Janna.
Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!"
Aku cegat langkah Bian.
Wajah cowok itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam, lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan!
Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang bangir!
"Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas.
Teman-teman sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi Bian.
"Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian.
Tanpa diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang sangat keras ke wajahku.
Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat tubuhnya yang gempal itu menerkam aku.
Siswi-siswi yang melihat adegan itu menjerit-jerit ketakutan.
Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku. Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu.
Akhirnya, Bian dan aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu!
Namun aku tidak menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun!
Membela dan melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku.
Aku tidak ingin ada orang yang menyakiti hatinya.
Tidak siapa pun!

***

Jam di ruang tengah berdentang satu kali.
Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul setengah tiga dinihari.
Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku.
Kutatap untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik:
'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'

***
SAMA-SAMA CINTA

Mula-mula sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku.
"Kristal?!" Mataku membelalak tak percaya.
Janna tersenyum.
"Sudah bangun, Re?" tanyanya sembari tersenyum.
"Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran.
Janna menggelengkan kepala.
"Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil.
Aku terdiam, terkesima dengan pengungkapannya yang jujur.
"Selama ini kita sama-sama muna kan, Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku.
Aku tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah memancarkan kesungguhan.
"Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu, aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan. Meskipun sebenarnya aku...."
"Kamu tidak pernah berterus terang, Re!"
"Sori, Re. Aku...."
"Kamu mencintai aku kan, Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir ranjang.
Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...."
"Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu, tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya menatapku tajam.
Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus. Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali. Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah itu?
Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku.
Indah, seindah mata kristalnya.

TAMAT
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Pastikan Dia Jangan Menunggu

Cerpen Karya Siauw Phing

SI PETASAN INJAK

"Mas Ray!"
Petasan injak itu lagi!
"Lho, kok Mas Ray cuek begitu sih?" Kishi menarik kursi ke dekat Ray. "Aku kan nggak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."
"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"
"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan ketemu Mas Ray kan?" Kishi tersenyum manis.
Gadis ini! gerutu Ray dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Ray menoleh. Menatap ke arah Kishi sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Ray.
"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"
"Mas Ray keberatan aku datang kemari, ya?" Kishi menatap profil samping Ray. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.

"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Ray.
Kishi terkekeh. "Habis, Mas Ray nanyanya seperti mau ngusir."
Aku memang mau mengusirmu! geram Ray dalam hati. Setiap Kishi muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!
Dan dengan caranya sendiri, Kishi selalu berhasil membuat Ray menuruti keinginannya.
"Mas Ray sudah makan?"
"Sudah."
"Aku belum. Temani aku makan keluar, yuk."
"Aku sedang melukis," tolak Ray.
"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayo dong, Mas Ray! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"
"Kamu kan bisa makan sendiri."
"Ah, mana enak makan tanpa teman."
"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Ray tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Aku mau traktir Mas Ray. Kan ujianku dapat B karena diajari Mas Ray."
"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."
"Mas Ray kok menolak niat baik orang?"
"Lukisanku belum selesai."
"Nanti bisa dilanjutkan. Kutemani, deh."
"Tidak usah," tolak Ray cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."

CINTAKAH DIA?

"Nanti ke rumah Ray?"
"Mungkin. Kenapa?"
Tito mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Kish. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."
"Oke."
"Trims." Tito melambai sambil menjauh.
"Kenapa harus kamu yang merawat bayi besar itu?" tanya Warnie setelah Tito berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."
"Bayi besar yang mana?"
"Tentu saja Ray! Siapa lagi?"
"Oo." Kishi tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Mas Ray banyak membantuku."
"Kimia?" Warnie mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kamu bisa."
"Biar saja. Mas Ray toh tidak keberatan."
"Apa yang kamu cari darinya, Kish?"
"Tidak ada."
"Kamu tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"
"Tidak!"
"Kamu terlalu cepat menjawab."
Jatuh cinta? Kishi bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Ray.
"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kish?"
"Kamu ini bicara apa, sih?!" Kishi mendelik. Mulai sebal dengan Warnie yang nyinyir.
"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu kamu yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"
Kishi terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.
"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kishi. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.
"Kamu tidak jujur."
"Jangan bicara lagi, Nie!"
"Kalau kamu menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kamu bahkan baru duduk di semester pertama sementara Ray sudah lulus."
"Kami cuma berbeda lima tahun!"
"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kish. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"
"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."
"Suatu saat pun kamu pasti sampai pada kesimpulan itu."
Benarkah?
"Kish, aku bisa bicara begini karena aku kenal Ray dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Ika. Dia sangat mencintai gadis itu."
"Aku tahu."
"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Warnie hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kamu terperangkap. Kamu teman baikku, Kish. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."
Lalu dia harus apa?!
Kishi bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Ray, seperti yang dikatakan Warnie? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Warnie.
Apa dia harus mencoba menjauh dari Ray, sekadar mencari tahu apa Ray peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Ray memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Kishi memang bukan apa-apa?
Kishi tidak berani membayangkan.
Dia bahkan tidak berani memikirkannya.

***

SEGALANYA TENTANG RAY

Ray melangkah ke dalam. Melewati ruang makan dan terhenti di dapur.
"Mam!"
"Hai, Ray. Dari mana?"
"Jalan-jalan sebentar."
"Tadi Kishi kemari. Lebih dari sejam menunggumu."
"Ada pesan?"
"Dia tinggalkan memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas."
Ray menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.

Titipan Tito. Katanya bulan depan Mas Ray diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat. Kishi.

Kemajuan!
Ray tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.
"Sudah makan, Ray?"
"Tadi sudah makan di jalan. Ray ke paviliun dulu."
"Oo, hampir lupa." Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Ray, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Mama biarkan dia di sana."
"Kishi?"
"Ika."
Ray tertegun.
"Temuilah, Ray. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."
"Semua sudah selesai," gumam Ray tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"
"Dia berhak memberi penjelasan." Mama mendorong Ray lembut. "Temuilah. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak?"
"Saya sudah tidak mencintainya lagi."
"Karena Kishi?" Mama tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"
"Kishi cuma anak kecil."
"Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."
"Mam!" Pusing di kepala Ray bertambah.
Ray tidak ingin menemui Ika sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Ray bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Ray menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa antara kami, batinnya.

***

RAY DAN IKA

"Ray!"
"Kapan kembali?"
"Kemarin. Aku meneleponmu tapi kamu keluar. Jadi hari ini aku kemari."
Ika masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Ray merasa sangat asing.
"Masih suka melukis, Ray?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Kudengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"
"Bulan depan."
Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang bukan seperti Ika yang dilepasnya pergi dulu.
"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Ika mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Ray.
"Kadang-kadang." Kalau Kishi datang dan Ray tidak sedang melukis. Ray akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.
"Bagaimana kalau kita keluar, Ray?"
"Maaf, aku capek."
"Kutemani di sini?"
"Tempat ini kotor."
"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."
Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?
"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Ray dua tahun yang lalu saat Ika memutuskan berangkat ke Amsterdam.
"Kesempatan ini jarang sekali datang, Ray. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."
"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"
"Cuma sementara!"
"Tapi kamu bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau kamu tidak kembali?"
"Aku pasti kembali."
"Sampai kapan?"
"Tidak lama!"
"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau kamu ingin aku menunggu seumur hidup?"
"Ray!"
"Kuliahmu sudah setengah jalan, Ika."
"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."
"Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek."
"Kamu tidak suka aku pergi?"
"Ya! Aku tidak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"
"Aku tidak membuangnya, Ray. Aku cuma menunda. Aku tak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."
"Bagaimana kalau kamu gagal?"
"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."
"Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali."
Ray tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Ika sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Ray yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.
Dan sekarang Ika bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!
Musik?! Astaga! Ray tahu betul, Ika tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.
"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat."
Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Ray.
"Siapa Kishi, Ray?" Ika meraih diktat Kishi yang tergeletak di atas lemari.
"Adik angkatan." Ray mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.
"Dia sering kemari? Kok bukunya ada di sini?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Ika menatap Ray sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Ray?"

***

AIRMATAKU MENITIK

"Ada telepon untuk Kishi, Mam?"
"Tidak." Mama mendongak, menatap Kishi sambil berkerut. "Kamu nunggu telepon dari siap sih, Kish? Penting ya sampai nanyain tiap hari?"
Kishi tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Warnie benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Ray.
Sudah lebih dari sebulan Kishi tidak lagi menemui Ray. Terakhir adalah saat Kishi mengantarkan amplop titipan Tito. Itu pun Ray tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Mama Ray. Setelah itu Kishi menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.
Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!
Ray tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.
Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Kishi sudah merasa kehilangan.
"Oya, Kish. Tadi Warnie datang. Katanya, mau pinjam diktat organik buat kuis besok. Mama suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."
Tertinggal di tempat Ray saat Kishi memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Warnie besok.
"Kishi pergi dulu, Mam."
"Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?"
"Ambil diktat di rumah teman. Kasihan Warnie, besok dia perlu sekali."
Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Ray.

***

"Mas Ray ada, Mbok?" Rumah besar itu sepi saat Kishi tiba di sana. Cuma Mbok Tinah yang menyambutnya.
"Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."
Kishi melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.
"Mas Ray!"
Kishi tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.
Ray menoleh. Mendapatkan Kishi tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Ika.
"Kishi."
"Maaf, aku tidak tahu kalau Mas Ray ada tamu." Kishi mencoba tersenyum.
"Tak apa." Ray menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Ika. Ka, ini Kishi."
Kishi melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku yang tertinggal."
"Berserakan di mana-mana."
"Tidak penting, kok. Cuma diktat itu yang mendesak. Bisa tolong ambilkan, Mas Ray?"
Ray meraih diktat organik Kishi di atas lemari.
"Terima kasih. Aku pulang."
Kishi berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Ray.
"Kish!" kejar Ray. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"
"Tidak begitu penting. Bisa tolong dikumpulkan dulu, Mas Ray? Nanti kuminta Warnie mampir mengambilkannya. Dia suka lewat sini kalau pulang."
"Kenapa tidak diambil sendiri?"
"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."
"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"
"Nanti mengganggu Mas Ray. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Kishi tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Ray tadi. "Aku pulang, Mas."
"Kuantar, Kish."
Hampir setahun berada di dekat Ray, menghampirinya selalu, Ray tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Kishi menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Ray bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Kishi memarkirkan mobilnya.
Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?
"Aku bawa mobil."
"Kuantar sampai depan."
"Tidak usah. Mas Ray kan ada tamu. Tuh sudah ditunggu."
"Hati-hati, Kish."
Kishi mengangguk. Ray bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.
Di dalam mobil, airmata Kishi mengalir deras.

***

HATIKU PATAH

"Mau tolong aku, Nie?"
"Apa?"
"Kalau pulang lewat rumah Mas Ray, kan?"
"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"
"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."
Warnie menoleh. Menatap Kishi dengan dahi berkerut.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada." Kishi tersenyum.
"Kenapa harus aku yang datang? Bukan kamu?"
"Aku sibuk. Mesti belajar untuk ujian semester."
"Biasanya minta Ray yang mengajarkan."
"Merepotkan dia saja."
"Hei, ada apa denganmu?" ulang Warnie heran.
Kishi menarik napas panjang, menunduk sedikit.
"Kamu benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Mas Ray."
"Oo, Kish." Warnie memeluk Kishi. "Dia mengatakan itu padamu?"
"Aku melihatnya sendiri. Ika kembali."
"Dia bilang akan kembali pada Ika?"
"Mas Ray tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Ika. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"
"Kish!"
Kishi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.
"Kalau saja kamu mau mendengarkan aku."
"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Kishi tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barangku."
"Mau titip sesuatu untuk Ray?"
Kishi menggeleng.
"Tak akan ada gunanya."

***

"Nah, itu dia pulang!"
Kishi tertegun di ambang pintu. Mama berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Kishi bingung adalah kehadiran Ray di ruang tamu sekarang.
"Ke mana saja, Kish? Sudah ditunggu lama, tuh."
"Jalan-jalan."
"Tante tinggal ke dalam ya, Ray."
Ray mengangguk. "Terima kasih, Tante."
Pandangannya dialihkan ke Kishi setelah Mama gadis itu menghilang. Sementara Kishi masih saja berdiri di tempatnya.
"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"
Kishi tertawa kecil. "Tumben Mas Ray kemari? Ada apa?"
"Mengantarkan barang-barangmu."

***

PASTIKAN DIA JANGAN MENUNGGU

"Seharusnya Mas Ray tidak perlu repot-repot begini. Sampai mengantarkan segala. Aku sudah minta tolong Warnie."
"Warnie datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."
"Ada yang penting?" Kishi duduk di hadapan Ray. Menatapnya.
"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"
"Bukan begitu. Biasanya Mas Ray kan...."
"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Ray tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"
"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."
"Bukan itu. Maksudku...."
Kishi menunduk. "Aku mengerti."
"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."
"Tidak perlu. Pahami saja keinginan Mas Ray." Kishi menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"
"Ya."
"Tito bilang, itu panggilan kerja untuk Mas Ray."
Ray mengangguk. "Pertambangan minyak di Batam."
"Mas Ray terima?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Kishi menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Mbak Ika?"
"Ika?" Ray memajukan tubuhnya. "Karena kamu melihatku memeluknya?"
"Sebenarnya bukan cuma itu."
"Apa lagi?"
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Kamu belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Ika. Kenapa langsung memutuskan?"
"Itu masalah pribadi Mas Ray. Kenapa aku harus tahu?" elak Kishi. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"
"Karena kamu tersangkut di dalamnya."
"Aku?" Kishi tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."
"Kalau kamu bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Ika bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."
"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."
"Kamu!" Ray mengultimatum. "Kamulah pemenangnya!"
"Pembicaraan apa ini? Mas Ray ngawur!" Kishi bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Ray mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?
"Duduk, Kish. Aku belum selesai."
"Apa lagi?!"
"Aku diwisuda besok."
"Lalu?"
"Mau mendampingiku?"
"Kenapa tidak minta pada Mbak Ika?"
"Ika lagi, Ika lagi!" Ray menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Ika!"
"Apa yang Mas Ray inginkan sebenarnya?"
"Waktu Ika meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada kamu...."
Kishi menggeleng.
"Aku bukan apa-apa bagi Mas Ray. Aku bukan apa-apa...."
"Karena aku tidak pernah membalas semua yang kamu berikan?"
"Memang tidak harus, kan?"
"Kishi, waktu kamu ke paviliun saat itu...."
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan Mas Ray tentang alasan memeluk Mbak Ika seperti itu. Itu urusan Mas Ray."
"Urusanmu juga." Ray menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Kish. Sebelum kuputuskan ke Batam atau tidak."
"Mas Ray akan ke Batam?" Kishi menatap Ray tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.
"Tergantung jawabanmu."
"Aku?"
"Ya, bukan Ika! Please, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Ray menarik napas sejenak. "Kamu ingin aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"
Kishi tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.
"Mas Ray ingin pergi?"
"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada kamu. Tapi kalau ada kamu, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau kamu ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"
Kishi mendongak. Menatap hitamnya mata Ray yang bagus.
"Aku tidak ingin Mas Ray pergi," ucapnya pelan. "Aku...."
Ray menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi!"

TAMAT
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Cahaya Bulan (Moonlight)

Cerpen Karya Guy de Maupassant

Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Negeri Swiss.

Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.

Akhirnya, pintu rumahnya diketuk, dan kakaknya muncul dalam balutan jaket tebal. Dan tanpa salam formal, mereka berpelukan penuh kasih dalam waktu yang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. Kemudian, mereka saling menanyakan kabar, keluarga dan ribuan hal lain, menggosip dan saling menyela, sementara Madame Henriette sibuk melepas jaket dan topinya.

Malam cukup gelap. Madame Roubere menyalakan lampu kecil, dan tak lama kemudian, dia acungkan lampu itu ke atas untuk menatap wajah kakaknya, lalu memeluknya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya dia saat menatap wajah kakak tercintanya itu. Dia mundur dan tampak ketakutan.

Di kepala Madame Letore tampak dua gepok besar rambut putih. Sisanya, rambut itu tampak hitam pekat berkilauan dan di setiap sisi kepalanya terdapat dua sisiran keperakan yang menyusur ke tengah gumpalan rambut hitam yang mengitarinya. Dia baru berumur 24 tahun, dan tentu saja perubahan ini benar-benar mengejutkan dia semenjak kepergiannya ke Swiss.

Tanpa bergerak sedikit pun, Madame Roubere menatap penuh keheranan, titik-titik air mata menetes ke kedua pipinya. Pikirannya berkecamuk, bencana apa yang telah terjadi pada kakaknya.

Dia bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Henriette?"
Dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sedih, senyum seseorang yang patah hati, Henriette menjawab, "Tidak ada apa-apa. Sumpah. Apakah kamu sedang memperhatikan rambut putihku ini?"

Tetapi Madame Roubere keburu merampas pundaknya, menatapnya tajam, dan mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apa yang terjadi padamu? Ayo katakan, apa yang telah terjadi. Dan jika kamu berbohong, aku pasti akan mengetahuinya."

Mereka masih saling pandang, dan Madame Henriette, yang terlihat seolah-olah hendak pingsan, meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.
Adiknya bertanya lagi, "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi? Ayo jawab aku!"

Dengan suara patah-patah sambil tersedu, Henriette menjawab, "Aku … aku punya seorang kekasih."
Ketika sedikit lebih tenang, ketika degup jantungnya yang keras mulai mereda, dia memasrahkan kepalanya ke dada adiknya seolah-olah hendak melepaskan semua beban hatinya, untuk menguras seluruh derita yang telah menyesakkan dadanya.

Dengan tangan saling bergenggaman, dua kakak beradik ini berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang gelap. Mereka tenggelam dalam keharuan, sang adik memeluk kakaknya erat-erat untuk mendekatkan diri, lalu mendengarkan.

"Oh! Aku tahu kalimatku ini tidak masuk akal; aku bahkan tidak dapat memahami diriku sendiri, dan semenjak itu aku merasa telah menjadi orang gila. Berhati-hatilah, adikku, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri! Jika saja kamu tahu betapa lemahnya kita, betapa cepatnya kita menyerah dan jatuh. Cukup satu momen kelembutan saja, satu masa melankolis yang menerpamu di antara ribuan kerinduan untuk membuka tanganmu, untuk mencintai, menyukai sesuatu, maka kamu pun akan dengan mudah jatuh.

Kamu mengenal suamiku, dan kamu tahu betapa aku mencintainya; tetapi dia pria yang matang dan rasional, dan tak mampu memahami getaran lembut hati seorang wanita. Dia selalu sama, selalu baik, selalu tersenyum, selalu ramah, selalu sempurna. Oh! Betapa kadang-kadang aku berharap agar dia memelukku dalam kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut yang manis dan pelan-pelan. Betapa aku berharap agar dia menjadi pria yang bodoh, bahkan lemah, sehingga dia merasa membutuhkanku, membutuhkan belaianku dan air mataku.

Semua ini kelihatannya culun; tetapi kita, para wanita, memang ditakdirkan seperti itu. Apa daya kita? Tapi, tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan suamiku. Sekarang terjadi, tanpa cinta, tanpa alasan, tanpa apa pun, hanya karena bulan telah menyinariku suatu malam di pinggir Danau Lucerne itu.

Selama satu bulan itu, ketika kami melakukan perjalanan bersama, suamiku, dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh, telah melumpuhkan semangatku, memadamkan rasa puitisku. Ketika kami menuruni jalan-jalan di pegunungan saat matahari terbit, ketika dua ekor kuda saling bersenda-gurau, dalam keremangan kabut, kami memandang lembah, hutan, sungai dan pedesaan, aku bertepuk tangan keras-keras dan berkata kepadanya: ’Betapa indahnya, wahai suamiku! Beri aku ciuman! Cium aku!’ Dia hanya menjawab, dengan senyum dinginnya: ’Tidak ada alasan bagi kita untuk saling berciuman hanya karena kamu menyukai pemandangan ini.’

Dan kalimatnya itu telah membekukan hatiku. Menurutku, ketika dua orang saling mencintai, mereka harusnya semakin tersentuh oleh pemandangan-pemandangan yang indah. Aku membeku bersama puisi hatiku. Aku seperti tungku yang tersiram atau botol yang tersegel rapat.

Suatu malam (kami menginap empat malam di sebuah hotel di Fluelen), karena sakit kepala, Robert langsung tidur setelah makan malam, dan aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pinggir danau itu.

Malam itu berlalu seperti dongeng-dongeng sebelum tidur. Bulan purnama mendadak muncul di atas langit; pegunungan tinggi, dengan semburat putih salju, seperti mengenakan mahkota warna perak; air danau gemericik dengan riak-riak kecil yang berkilauan. Udara begitu lembut, dengan kehangatan yang merasukiku sampai seperti mau pingsan. Aku begitu kepayang tanpa sebab apa pun. Tetapi, betapa peka, betapa bergolaknya hati saat itu! Jantungku berdegup keras dan emosiku semakin kuat.

Aku duduk di atas rumput, menatap danau yang luas, melankolis dan menakjubkan itu, seolah-olah ada perasaan aneh merasukiku; aku terangkum dalam rasa haus akan cinta yang tak terlegakan, sebuah pemberontakan terhadap kebodohanku sepanjang hidupku. Apa! Tidakkah menjadi takdir bagiku untuk dapat berjalan dengan seorang pria yang kucintai, dengan tangan saling berpelukan dan mulut saling berciuman, di pinggir danau seperti ini? Tidak bolehkah bibirku mengecap dalamnya ciuman yang lezat dan memabukkan di malam yang telah diciptakan Tuhan untuk dinikmati? Apakah ini nasibku untuk tidak meresapi indahnya cinta dalam bayang-bayang cahaya bulan di malam musim panas ini?

Lalu tangisku meledak seperti wanita gila. Kudengar sesuatu bergerak di belakangku. Dan seorang pria berdiri di sana, menatapku tajam. Ketika kupalingkan kepalaku, dia mengenaliku dan berkata, ’Kamu menangis, nyonya?’

Dialah pemuda yang tengah melancong bersama ibunya, dan kami sering bertemu. Matanya seringkali menguntitku. Aku begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Kujawab saja bahwa aku sedang sakit.

Dia berjalan di dekatku dengan cara yang santun dan lembut, lalu mulai berbicara kepadaku tentang perjalanan kami. Segala yang kurasakan telah dia terjemahkan ke dalam kata-kata. Segala hal yang membuatku bergairah dapat dia pahami dengan sempurna, lebih baik dari diriku sendiri. Dan tiba-tiba dia mengutip larik-larik puisi Alfred de Musset. Tenggorokanku tersekat, aku terpesona dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat di sekelilingku, pegunungan, danau dan cahaya bulan tengah bernyanyi untukku.

Lalu terjadilah. Entahlah. Aku tak tahu kenapa, semacam sebuah halusinasi.
Aku tidak bertemu lagi dengannya, sampai suatu pagi dia harus melanjutkan perjalanannya lagi. Dia memberiku sebuah kartu!"

Lalu, sambil jatuh ke dalam pelukan adik perempuannya itu, Madame Lotere menangis sesenggukan, nyaris seperti anak kecil. Madame Roubere, dengan wajah serius, berkata dengan lembut, "Dengarlah, kakakku, seringkali bukanlah seorang pria yang sesungguhnya kita cintai, tetapi cinta itu sendiri. Dan cahaya bulanlah yang menjadi kekasih sejatimu malam itu."

***

Catatan : Judul asli Moonlight karya Guy de Maupassant. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ribut Wahyudi, penulis dan pengelola penerbitan di Jogja. Guy de Maupassant adalah cerpenis kelahiran Chateau de Miromesniel, Dieppe pada 5 Agustus 1850. Selama hidupnya, dia telah menulis lebih dari 300 cerita pendek, enam novel, tiga buku perjalanan, dan sebuah kumpulan puisi. Maupassant sudah menderita sifilis semenjak usia 20 tahun. Pada 2 Januari 1892, dia berusaha bunuh diri dengan menusuk tenggorokannya sendiri. Dia meninggal pada 6 Juli 1893.
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Cinta Bersemi di Salon Rifa'i

Cerpen Karya Monita Gunawan

Dara menginjak rem mobilnya untuk belok ke kiri sambil celingak-celinguk mencari alamat yang ditulisnya di kertas 'post it' kuning menyala itu.
"Candi Mendut Barat I...," gumamnya. "Ini sudah Candi Mendut Barat, tapi kok tidak jelas I atau 100, ya?" Dengan agak sebal ia menghubungi sahabatnya sekaligus yellow pages persalonan, Jacklyn.
"Jack, benar nih aku belok kiri setelah rumah bersalin Permata Bunda?" tanyanya begitu Jacklyn menjawab telepon selularnya.

"Yes, Honey. Belok kiri, terus belokan kanan kedua kamu belok kanan, terus lurus saja. Salonnya ada di kiri. Aku sudah daftarkan atas nama kamu. Kalau hari Sabtu begini, ramai sekali, Non."
"Oke, deh. Trims, ya?"
Klik. Percakapan selesai.
Dara agak bersungut saat memarkir mobilnya karena ternyata salon tersebut terletak di daerah perumahan yang jalannya agak sempit. Dan benar kata Jacklyn, hari Sabtu ramai pengunjung. Di depan rumah berpagar coklat itu ada tiang yang atasnya bergantung papan hitam dengan tulisan merah Salon Rifa'i. Di baris pertama dan di baris kedua tertulis, Hari Senin tutup. Hm, Dara agak ragu memasuki salon itu. Kurang meyakinkan, begitulah kesan pertama Dara.
"Siang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang gadis dengan rambut jingga menyala standar pegawai salon.
"Hm, saya sudah daftar, Mbak... atas nama Dara. Mau gunting dan highlight," jawab Dara sambil mengintip daftar pengunjung yang sudah booking di buku folio besar macam buku akuntansi.
"Oh iya... tunggu sebentar ya, Mbak. Masih menunggu satu orang lagi dipotong rambutnya. Silakan duduk dulu," ujar si Rambut Jingga sembari menunjuk kursi lipat Chitose hitam di sudut kiri.
Dara duduk, melipat kaki dan tangan dengan anggun seperti yang pernah dipelajarinya di John Robert Power sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling salon. Ih, kalau bukan Jacklyn yang merekomendasikan salon ini, tidak bakalan ia mengunjungi dan memasrahkan rambutnya di tempat berukuran ala kadarnya, dengan kursi-kursi standar dengan dua kipas angin propeler sebagai penyejuk macam ini. Bagaikan langit dan bumi dengan salon yang biasa ia kunjungi untuk creambath. Salon elit yang harga potong rambut saja bisa ratusan ribu. Mungkin satu paket dengan aroma terapi yang dibakar terus menerus demi kenyamanan pelanggan salon agar tidak jenuh saat menunggu.
"Pokoknya, kamu percaya saja, Ra," kata Jacklyn meyakinkan dua hari lalu. "Yang motong rambut adalah Si Fa'i sendiri. Yang dulu di salon Lusihye itu, lho." Dengan wajah penuh promosi Jacklyn melanjutkan, "Fa'i itu dulu tangan kanannya Si Christo, pelanggannya paling banyak. Terus mereka ada selisih paham, akhirnya Fa'i buka salon sendiri di rumahnya. Banyak langganannya yang pindah nyari Fa'i." Jacklyn jeda sejenak, menelan ludahnya yang sedikit berbusa-busa. "Potongannya keren habis. Dia bisa mengkombinasikan antara jenis rambut, warna kulit dan bentuk wajah kita! Harga terjangkau pula."
Dara melihat sekelilingnya, dan sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mengambil keputusan. Secara ia ingin tampil mencengangkan, mempesona, mengundang decak kagum, dan berbagai kosa kata lainnya dari orang-orang yang bakal melihat penampilannya nanti. Terlebih, ia dapat tampil paling mentereng di acara ulangtahun Kezia malam Minggu ini. Dan yang pasti, ia bakal membuat Yoga, mantan pacarnya beserta kekasihnya yang barunya itu, terperanjat oleh pesona dari dirinya yang tampil bak Cinderella.

***

Sebenarnya alasan Dara ingin tampil cantik bukan karena ia masih ingin Yoga kembali padanya. Toh memang mereka sudah tidak cocok. Namun seperti biasa, penyakit yang timbul setelah putus pacaran adalah tidak rela kalau mantan pacar lebih cepat dapat pengganti.
Sebenarnya alasan Dara ingin tampil cantik bukan karena ia masih ingin Yoga kembali padanya. Toh memang mereka sudah tidak cocok. Namun seperti biasa, penyakit yang timbul setelah putus pacaran adalah tidak rela kalau mantan pacar lebih cepat dapat pengganti. Jadi, untuk menaikkan harga dan kepercayaan pada diri sendiri, Dara berniat untuk tampil lebih dan beda.
"Silakan, Mbak. Rambutnya dicuci dulu, ya?" Kali ini pria gemulai berambut ala salah satu penyanyi F4 menyapanya santun. Jemarinya yang lentik sesekali membenarkan mengibaskan rambutnya yang berwarna coklat layaknya besi berkarat. Ia menunjukkan tempat keramas.
"Wah, rambutnya bagus sekali, Mbak. Sering creambath, ya?" tanya si Rambut coklat serupa besi berkarat.
Hampir saja Dara menjawab, 'Ah, tidak... cuma pakai shampo, kok,' seperti iklan shampo di stasiun tv. Tidak jadi sebab kepalanya sudah dibenamkan di bak cuci salon.
Tidak terlalu lama, rambutnya pun sudah dibilas bersih.
"Sudah, Mbak," ujar si Rambut coklat serupa besi berkarat sambil membelitkan handuk putih tipis ke kepalanya.
Sekarang Dara sudah duduk di depan cermin. Ia menatap bayangan dirinya. Wajah oval khas Indonesia, alis tebal rapi dan hidung kecil bangir. Juga sepasang mata yang membuat para perias berdecak kagum, ditambah rambut tebal hitam bak mayang melambai. Terus terang, memang sudah lama sekali ia tidak memotong rambutnya karena Yoga lebih suka cewek berambut panjang, dan Dara memilih mengalah demi menyenangkan cowok yang pernah mengisi hati dan hari-harinya itu.
"Mau dipotong model apa, Mbak?" tanya seorang pria lain. Kali ini ia lebih maskulin, hitam manis dan bertampang rupawan.
Oh, ini toh Si Fa'i itu, batin Dara. Mau dipotong model apa ya? Aha!
"Model bobnya Maia Ahmad ya, Mas. Terus, disemir warna merah dan coklatnya Maia juga," kata Dara bersemangat.
Si Fa'i meneliti rambut Dara sambil sesekali memandang wajah Dara melalui cermin. Lalu perlahan tapi pasti ia menggunting rambut panjang legam sehitam gulita malam tak berbintang, tak berbulan dan mati lampu! (Hihihi... Si Dara kadang-kadang puitis, dan menggambarkan fenomena alam ke dalam bentuk puisi yang selalu sukses ditolak oleh majalah yang dikiriminya untuk dimuat!)
Hasilnya memang di luar dugaannya. Oke banget! Dara kelihatan sesegar buah dan sayur mayur yang baru dipetik dari perkebunan di lereng gunung. Sekarang tinggal proses pewarnaan yang membosankan.
Dara merasa ada yang memperhatikan dirinya. Ia melihat ke sebelah kiri. Tampak dua anak muda jebolan fitness center dengan wajah yang bisa membuat kepala menoleh dan menoleh lagi. Cowok dengan t-shirt biru muda dan celana warna natural tersenyum lebih dahulu. Kulitnya putih, rambutnya di-spike, giginya terawat bak model pasta gigi yang ia pakai. Duh, keren!
Dara membalas senyumnya, kemudian berpura-pura konsentrasi kembali ke buku Harry Potter ketujuh yang sengaja dibawanya.
Tapi, kok sepertinya ada yang memperhatikan lagi. Ia melirik lagi ke kiri. Kini yang menatapnya tanpa berkedip adalah cowok yang satunya. Si Spiky sudah di tempat cuci rambut. Cowok yang ini berkaos putih, celana jeans belel—kulit agak kecoklatan, mata elang, dan senyum yang tak kalah menawan dengan pemuda yang tadi. Dara tersenyum bahagia lagi sambil berharap detak jantungnya tidak terdengar. Boleh dong, sekali-kali ge-er! batinnya. Ia mencoba membaca halaman yang sejak tadi sudah dibaca berulang-ulang, tanpa konsentrasi dan lebih pada kepura-puraan.
Pemanas rambut berbentuk helm raksasa itu sudah hampir duapuluh menit mengeluarkan uap di atas kepala Dara. Menurut mereka, Dara mesti melewati proses pemanasan yang lebih intensif berhubung rambutnya belum tersentuh pewarna rambut sebelumnya. Juga, agar penyerapan zat warna pada bilah-bilah rambutnya dapat terkontaminasi dengan baik. Akhirnya, meski bosan mengeram seperti induk ayam, akhirnya ia memasrahkan dirinya juga demi tercapainya perwujudan putri cantik ala Cinderella.

***

Namun, ia mengernyitkan dahinya.
Lho, kok sepertinya ada yang memperhatikan ia lagi!
Dengan kepala yang terperangkap seperti itu agak susah Dara mengedarkan pandangan. Cowok kaos biru muda? Bukan. Cowok kaos putih? Bukan juga. Lho... mata Dara berhenti pada cowok berkacamata dan berkemeja coklat army yang ia lihat lewat cermin di depannya. Cowok itu mengangguk sopan. Dara menyungging senyum kecil. Ada apa sih hari ini? tanyanya dalam hati. Lalu dengan panik ia melihat bayangan dirinya di cermin.
'Jangan-jangan ada sesuatu nempel di muka aku!' pekik Dara dalam hati, lalu menghela napas lega setelah apa yang 'tidak-tidak', yang dibayangkannya tidak terjadi!
Aduh! Masih belum selesai juga, nih! Dara sudah mulai bosan. Kali ini ia yang mencuri pandang dan mencuri dengar ke arah dua pemuda keren tadi.
"Troy, sudah mencicipi ikan bakar Letjen Sutoyo belum?" Cowok bermata elang bertanya.
Dara memutar matanya, kembali ke depan cermin. Hm, Troy...
Sekonyong-konyong Troy sudah ada di sampingnya, dan mengambil salah satu majalah di meja cermin depan Dara. Mata mereka bersirobok, dan Troy itu mengedipkan sebelah matanya dengan sikap menggoda.
Dara kemekmek. Cepat-cepat meraih air mineral free of charge dari salon. Fiuh! Untung disediakan minum. Kalau tidak, ia bisa mati gaya.
"Ih, genit amat sih cowok itu," rutuk Dara, ngedumel dalam bisik.
Tidak lama kemudian, salah seorang pegawai salon Si Fa'i datang dan membuka tangkup pemanas rambut pada kepalanya.
"Oke, Mbak, sudah selesai," ujar si Pegawai salon, masih si Rambut coklat serupa besi berkarat yang lebih kemayu ketimbang perempuan. "Dibilas dulu ya, Mbak?"
Dara agak lega setelah seperti menunggu selama seabat. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat dirinya lebih seksama pada cermin. Hasil semir warna pada rambutnya sungguh di luar dugaan!
"Lho?! Kok...!" Dara seperti kebakaran jenggot. Panik. Gugup luar biasa. "Mbak, eh Mas... Oom, eh... kok jadi warna merah menyala?! Seperti gulali pada poni panjangnya?!"
"Ya? Kenapa, Mbak?" tanya Mas Fa'i yang ikutan panik melihat ekspresi Dara, segera menghampiri tempat duduk Dara yang tengah berteriak.
"Aduh... Mas! Kenapa warna merah yang zaman Maia Ahmad masih sahabatan sama Mulan Kwok?!" tanya Dara dengan suara tercekat, berusaha menahan tangis.
"Maksud, Mbak?" Mas Fa'i mengerutkan keningnya.
"Mak-maksud aku, seharusnya merahnya adalah merah kecoklatan pas Maia lagi heboh-hebohnya mau cerai sama Dhani!"
"Merah yang bagaimana ya, Mbak?" tanya Mas Fa'i bingung. Sementara itu si Rambut coklat serupa besi berkarat hanya terpana dan mematung dengan jari tergigit.
"Ya... merah agak coklat agak gelap tapi merah. Begitu, merah jablay begitu!" Dara bingung menjelaskannya, berdiri dan sedikit mengentakkan kakinya ke lantai karena kesal luar biasa. "Ada contoh warna tidak, sih?!" tanyanya lagi dengan ruap marah.
Dara kesal sekali. Kenapa juga ia bodoh tidak memilih warna sejak awal. Begini deh jadinya!
Tergopoh-gopoh si Ranbut coklat serupa besi karat berlari menuju meja kasir, lalu detik berikutnya ia sudah tiba di hadapan Dara dan mengangsurkan gumpalan sampel rambut sintesis yang tertempel di karton warna hitam dan putih itu pada Dara.
Duh, jangan sampai Mbak ini menangis sambil teriak di salon tempat ia baru bekerja dua minggu ini. Bisa-bisa rumor beredar di luaran bahwa Salon Fa'i mengecewakan pelanggan dan kemudian tutup, lantas akhirnya ia menganggur lagi. Uh, ia paham benar bagaimana lips to lips marketing and advertising lebih jitu ketimbang iklan di televisi.
Dara membolak balik semua lembaran contoh warna. Gila! Dari sekian banyak sampel, tapi tidak ada yang sesuai dengan selera warna yang diinginkannya. Tidak ada yang persis sama dengan warna rambutnya Maia Ahmad Estianty Ratu! Dengan lunglai diletakkannya buku-buku besar itu ke atas meja. Yah, memang salahnya tidak membawa contoh majalah yang ada Maia dengan rambut breathtaking-nya itu. Apa boleh buat nasi telah menjadi kerak.
"Berapa, Mbak?" tanya Dara lemas, setelah ia lebih memilih untuk pulang dan menangis sepuas-puasnya. Hancur berantakan semua impian indahnya!
Namun ia membelalak tidak percaya setelah mendengar harga yang disebutkan. Alias murah banget! Ah, biar saja. Mungkin mereka merasa bersalah sehingga membanting harga sampai menyusur tanah alias korting irasional!
Begitu Dara keluar menuju mobilnya, ada langkah-langkah mengikutinya
"Maaf, Mbak, mengganggu sebentar. Hm, ini kartu nama saya." Ternyata cowok berkacamata dan berbaju coklat army tadi.
Dara baru sadar bahwa orang itu sejak tadi hanya duduk tapi tidak melakukan perawatan apapun di Salon Rifa'i. Dara membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut: 'Colours Model Inc. Agung Suseno. Director'.
"Saya sedang mencari talenta baru untuk iklan pewarna rambut, dan sejak tadi saya perhatikan Mbak. Maaf, nama Mbak siapa...."
Dara meneruskan. "Dara. Daraditha Prihantini."
"Oya, Mbak Dara. Mbak Dara cocok sekali untuk diikutkan audisi untuk iklan produk kami. Warna rambut dan modelnya cocok sekali pada rambut Mbak Dara. Kapan bisa ikut sesi pemotretan?" desaknya dengan ekspresi serius.
Dara melongo. Tidak salah dengarkah ia?! Hatinya mulai membuncah dengan bunga.
"Hm, saya lihat jadwal saya dulu ya Mas," sahut Dara berlagak profesional. "Nanti saya hubungi Mas...."
Pemuda bertampang officer itu cukup puas dengan jawaban Dara. "Oke, oke. Terima kasih ya, Mbak Dara. Saya tunggu telepon dari Anda."
Dara kembali berjalan ke arah mobilnya ketika selesai menjabat tangan dengan pemuda itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika ada langkah-langkah berikutnya yang terdengar buru-buru diselingi panggilan santun.
"Permisi, Mbak. Tunggu sebentar!"
Ketika Dara menoleh, ia kembali bertanya pada dirinya. "Hari apa sih ini?"
Tiba-tiba saja, hari ini, ia dikerubuti oleh pemuda-pemudah keren. Kedua cowok yang tadi melirik-liriknya di dalam salon telah tiba di hadapannya. Sementara itu mobil pemuda bernama Agung tadi sudah meninggalkan halaman parkir.
"Sori, boleh kenalan tidak?" tanya si Mata Elang.
Dara membelalak tidak percaya.
Cowok itu melanjutkan, "Aku Glenn, dan ini sepupuku, Troy." Tangannya diulurkan mengajak salaman.
Sembari menyambut uluran tangan itu, Dara menyebutkan namanya. "Daraditha Prihantini. Panggil saja Dara."
Lalu percakapan sambil berdiri di tengah jalan kompleks yang sempit itu berlanjut sampai tukar menukar nomor telepon. Ternyata Glenn lebih simpatik ketimbang Troy, bahkan jauh lebih keren dibandingkan pemuda bernama Agung tadi. Setelah berkenalan, Dara pulang dengan hati bahagia. Tangisnya perlahan berubah menjadi senyuman.

***

Kini tiba malam yang ditunggu-tunggu.
Dara tak hentinya menatap dirinya di cermin.
Is that really me?
Wuih... canggih!
Tube dress black maroon dengan tali tipis spaghetti dan rok model A line, plus sepatu senada dipadu make-up natural minimalis sangat memodiskan tubuhnya yang ramping. Ia tampak anggun diandili rambut bob mutakhir dengan warna racikan Salon Rifa'i. Pesta ultah Kezia pasti tertakjubi oleh kehadirannya bak Cinderella. Apalagi, ia digandeng oleh sang Pangeran dari Negeri Rifa'i (ups, salah! Maksudnya, pemuda yang dikenalnya di Salon Rifa'i bernama Glenn!).
Ssstt, bukan itu saja!
Ia juga bakalan menjadi selebritis baru. Tentu saja bukan karbitan secara ia memang sedari dahulu bercita-cita menjadi model papan atas. Dan, lagi-lagi rencana sesi pemotretan minggu depan diantar Glenn, si Pujaan Hati.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah menganugerahi aku seorang pemuda tampan dan baik hati di Salon Rifa'i. Terima kasih, Jacklyn. Andilmu mengenalkan aku pada Salon Rifa'i tak pernah akan aku lupakan. Dan terima kasih juga untuk Mas Fe'i. Hasil semir rambutmu membuahkan hasil yang indah. Terima kasih, Mas... Mbak, eh Oom berambut coklat serupa besi berkarat. Kamu adalah pegawai salon terhandal...." bisik Dara dalam doa, tersenyum lalu seperti terbang menuju bintang-bintang karena saking bahagianya.
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Sang Primadona

Cerpen Karya A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Ramuan Ajaib

Cerpen Anak Karya Retno Wi

Terdengar gelak tawa kakek dan neneknya. Tapi Yogi tidak ikut tertawa. Ia tetap serius. Dari balik pintu ia merekam semua percakapan kakek dan nenek. Telinganya didekatkan daun pintu, agar suara kakek dan nenek yang mulai tua terdengar jelas. Yogi benar-benar tidak ingin ada sepatah kata pun yang terlewat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak keika suara kakek dan nenek tidak terdengar jelas.

Esok hari sepulang sekolah, teman-teman Yogi berkumpul dan bersiap ke rumah Mia.
“Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumah Mia?”
Yogi mengelus botaknya beberapa kali. Dengan santai ia melangkah dan bersiul-siul.
“Buat apa ke rumah Mia?” Tangannya berkacak pinggang memandang teman-temannya.
“Ya, belajar dong! Besok kan, ujian matematika. Banyakk rumus yang harus dihafal, lo!”
“Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.”
“Kok bisa begitu?”
“Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.”
“Resep, apa sih?” Tanya Mia penasaran.
“Resep agar sukses ujian.”
“Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.”
“Wah, kalian salah. Pokoknya ini rahasia!” jawab Yogi sambil mengerling genit.
“Dasar pelit! “ Mia mengomel sebal.
“Jangan-jangan kakeknya Yogi dukun.” Komentar Anton.
“Ha…ha…ha… dipanggil aja Mbah dukun.” Jaka tertawa terbahak-bahak.
“Jangan sembarangan, ya! Kita lihat saja besok.” Yogi pergi sambil menggerutu sepanjang jalan menuju rumah.

Malam telah tiba. Yogi segera mempersiapkan keperluannya. Catatan matematika, segelas air putih, sesendok gula dan sedikit garam. Dengan hati-hati tangannya membakar lembar demi lembar catatan matematikanya. Abu bakaran ditampung di piring palstik yang diambilnya dari dapur. Beberapa lembar catatannya terbakar. Dengan hati-hati tangan Yogi memasukkan abu ke dalam gelas sedikit demi sedikit.

“Yogi.. Sedang apa di kamar, Nak? Kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.” Teriak Ibu dari ruang tengah.

Yogi terperanjat. Dia mendekat ke pintu, mengamati lubang kunci dengan seksama. Ia memastikan pintu kamarnya telah terkunci.
“Tidak apa-apa kok, Bu. Yogi hanya mempersiapkan untuk ujian besok.” Yogi pun melanjutkan pekerjaannya. Diaduknya larutan abu yang diberi gula dann garam dengan hati-hati. Ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang sedang dilakukannya di kamar.

“Huek..kk!” Yogi berlari ke jendela, memuntahkan isi mulutnya.
“Ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana Kakek dulu meminumnya, ya?” di pandanginya air keruh yang mengisi setengah gelas. Yogi membayangkan dirinya akan menjadi bahan olok-olok teman-temannya jika tidak bisa mengerjakan ujian.
Dengan mata terpejam dia paksa meminumnya sekali lagi.
“Huek…kk!.. Huek..kkk!!”
“Yogi..” Tok..tok…tok.. Suara Ibu di depan pintu. “Ada apa,, Nak?”
Uhuk..kk! Uhuk…k! Yogi terbatuk-batuk.
“Yogi hanya kesedak, Bu.”

“Buka pintunya, Ibu buatkan susu hangat untukmu.” Yogi terkesiap. Segera ia sembunyikan gelas yang berisi ramuan ke dalam lemari buku. Dengan wajah dibuat setenang mungkin ia membukakan pintu untuk ibunya.
“Benar kamu tidak apa-apa?”
Yogi menggeleng. Ibu menaruh segelas susu di meja belajarnya. Yogi was-was, takut ibunya menemukan gelas yang disembunyikan.

“Kakek, di mana?”
“Ada di kamarnya. Kenapa?”
“Enggak, kok Yogi tidak mendengar suaranya.” Tak lama kemudian Ibu Yogi meninggalkan kamar. Yogi mengambil gelas yang disembunyikan di kolong tempat tidur. Diamatinya gelas itu lama-lama.
Kuteruskan, nggak ya? Tanya Yogi dalam hati. Yogi mengelus botaknya berkali-kali. Diambilnya sisa catatan yang belum dibakar. Begitu banyak rumus yang harus dihafalkan. Ah, daripada susah-susah menghafal, mending kuteruskan minum ramuannya.

Kali ini Yogi menyiapkan segelas air putih yang baru diambilnya dari ruang makan. Yogi mencoba meminum lagi ramuan ajaibnya.
“Huekk..k!! Huekk…k!!” Kembali Yogi mual. Dia segera berlari ke jendela dan memuntahkan ramuannya. Dengan cepat tangannya mengambil air putih dan meminumnya.
“Aku benar-benar tak dapat meminumnya.” Yogi mulai pasrah. Wajahnya agak pucat. Kepalanya pusing.

“Aha..! Bukankah kakek dulu juga merasa pusing dan mual? Artinya ramuan ini mulai bekerja.” Yogi sedikit gembira mengingat perkataan kakeknya. Ia pun memilih tidur dengan harapan besok pagi semua rumus yang diminumnya sudah melekat di kepalanya.

* * * *
Jam setengah tujuh pagi. Yogi masih tidur di kamarnya. Berkali-kali ibunya mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Dengan sedikit khawatir, tangan ibu Yogi mencoba menarik handel pintu.
Klek. Pintu terbuka. Rupanya Yogi lupa mengunci pintunya setelah mengambil air putih tadi malam. Ibu Yogi memegang keningnya. Panas. Rupanya Yogi demam.

Yogi membuka matanya dengan berat.
“Kamu sakit, Nak?”
“Kepalaku pusing, Bu. Aku juga kedinginan.”
“Kalau begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.”
“Tapi hari ini Yogi ujian, Bu.”
“Nanti Ibu telepon ke sekolah, agar boleh mengikuti ujian susulan.”
Yogi hanya bisa pasrah.
“Ibu telepon ke gurumu, ya.” Yogi mengangguk. Sebelum ibunya keluar Yogi memanggil.
“Bu, tolong panggilkan Kakek, ya.” Ibu Yogi mengangguk dan pergi meninggalkan kamarnya. Tak lama kemudian Kakek telah muncul di depan pintu kamar Yogi.

“Aduh Yogi, mau ujian kok sakit.” Kakek mendekat dan duduk di tepi dipan. Kakek Yogi melihat isi kamar. Matanya langsung tertuju pada gelas yang berisi cairan gelap.

“Yogi minum, kopi?”
Kepala Yogi menggeleng.
Kakek melangkah mendekat meja dan mengangkat gelas. Diciumnya isi gelas denngan hati-hati.
“Kamu membuat rauan ini?”
Yogi mengangguk pelan.
“Siapa yang mengajari?” Tanya Kakek bingung.
Dengan wajah murung Yogi menjawab.
“Dua hari yang lalu aku mendengar Kakek sedang bercerita tentangramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.”

“Ha..haa..Haa. Ooh.. itu rupanya penyebabnya. Makanya sekarang Yogi sakit.”
“Tapi Kakek dulu juga sakit kan setelah minum ramuan itu?”
“Ya. Kakek langsung sakit.”
“Dan Kakek jadi pintar matematika, kan?”
“Waduh! Pasti kau tidak mendengarkan dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan itu, kakek masih ikut ujian. Dan hasilnya, kakek dapat nilai tiga!.”

“Ha??! Tiga?” Yogi tidak percaya mendengarnya. “Lo, bukankah kakek pandai matematika?”
“Ya, karena setelah itu Kakek rajin belajar agar semua rumus matematika dapat melekat di kepala. Bukan dengan meminum rumus-rumus itu.”
Yogi semakin lunglai. Karena ia berharap dapat pandai matematika tanpa harus susah-susah belajar.

“Yogi ingin menghafal rumus-rumus matematika?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu,, salin semua rumus di bukumu. Lalu tempelkan rumus-rumus itu di dinding kamar, di kamar mandi, dan bawalah kemanapun kau pergi. Dan bacalah jika senggang. Kakek yakin kau akan dengan mudah menghafalnya.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya.”
“Ingat, Yogi. Tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan usaha dan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.”
Yogi pun mengerti, kalau ingin pintar ia harus belajar, bukan dengan minum ramuan ajaib.
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Fallow me

 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2009