Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Novel. Tampilkan semua postingan

Mata Elang I

By Hey Sephia

Pelajaran kosong. Tanyakan pada pelajar SMA manapun, kata-kata ini nilainya tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada batal ulangan sekalipun. Mungkin kata-kata yang bisa menandingi nilai pelajaran kosong hanyalah dua jam pelajaran kosong. Itulah sebabnya suasana kelas hari ini ramai sekali. Keramaian ini dimulai saat mereka mendengar bahwa guru biologi, Bu Tanti, tidak bisa mengajar hari ini karena sakit. Itu berarti, dua pelajaran penuh, dua kali 45 menit, mereka bebas dari pengawasan guru. Guru-guru yang lain sibuk mengajar. Bu Tanti memberikan tugas meringkas dua bab dari buku diktat. Tapi rasanya murid-murid tidak ada yang menganggap penting tugas itu sekarang. Yang penting sekarang adalah pelajaran kosong, dan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kalian bisa diam, tidak? tiba-tiba saja Bu Mirna, yang sedang mengajar ekonomi di kelas sebelah, masuk ke dalam kelas. Murid-murid cepat-cepat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Bertepatan dengan itu, Pak Yusril, kepala sekolah SMA Antonius mengetuk pintu kelas. Terima kasih, Bu Mirna. Saya akan jaga di kelas ini, kata Pak Yusril. Ada seorang laki-laki yang membuntutinya. Anak-anak, ini Pandu. Mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas 2C ini. Tolong perlakukan dia dengan baik. Pandu, ceritakan sedikit tentang dirimu sehingga teman-teman barumu bisa mengenalmu lebih baik, kata Pak Yusril. Nama saya Pandu. Pandu Prasetya. Saya pindahan dari SMA Mataram di Yogyakarta. Ayah saya polisi, baru saja selesai tugasnya di Yogya, dan dipindah ke Semarang ini. Saya anak bungsu dari 5 bersaudara, kakak saya laki-laki semua. Pasti ada yang bertanya-tanya kenapa ayah saya memberi nama Pandu padahal saya anak bungsu? Kakak-kakak saya semua bernama Pandu. Jadi kalo ada yang naksir saya, mau telepon ke rumah, carinya Pandu Prasetya. Kalo nggak nanti pada bingung Pandu yang mana. kata Pandu tanpa malu-malu dengan gaya yang ramah dan kocak.

Huh, gersah Niken yang duduk di samping jendela, Pe-de benar cowok satu ini. Lagaknya sok ganteng, batinnya.
Nik, cakep yach tu cowok, Wulan yang duduk di sebelahnya berbisik.
Cakep apanya, ah?
Bagaimana sih kamu? Perawakannya tegap, tinggi lagi. Rambutnya keren. Ketahuan lah kalau bapaknya polisi. Matanya seperti mata elang bisik Wulan, mulai berandai-andai.
Seperti mata jangkrik. sahut Niken asal-asalan.
Niken! panggil Pak Yusril.
Ya Pak! Mendengar namanya dipanggil, Niken sontak berdiri. Aduh, jangan-jangan Pak Yusril mendengar percakapanku dengan Wulan?
Kamu ketua kelas, saya ingin kamu duduk dengan Pandu. Wulan, kamu pindah di samping Arya.
Pandu, kamu duduk di samping Niken.
Baik, Pak. sahut Wulan dan Pandu hampir bersamaan.
Duh, sial! Kenapa pula si jangkrik itu musti duduk di sebelahku? Benar-benar sial. gerutu Niken dalam hati sambil duduk kembali. Kamu beruntung sekali bisa duduk di sebelah si mata elang. bisik Wulan sebelum berdiri. Kalau saja aku bisa bertukar tempat dengan kamu sekarang, aku bakal merasa sangat beruntung. Niken balas berbisik. Dia tidak menyangka Pandu sudah berdiri di sebelahnya. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya menebar senyum lalu duduk.

Niken, tugas apa yang diberikan Bu Tanti? tanya Pak Yusril.
Meringkas bab 3 dan bab 4 dari buku paket, Pak. jawab Niken.
Bagus. Sekarang kalian duduk manis dan meringkas. Saya akan duduk di sini, menonton kalian meringkas. kata Pak Yusril sambil duduk di depan, di kursi guru.
Anak-anak terlihat kecewa. Hilanglah harapan mereka untuk bersenang-senang selama 2 jam pelajaran. Seandainya saja bukan Pak Yusril, sedikit-banyak mereka pasti protes. Mereka sangat menghormati Pak Yusril. Bukan karena dia galak, melainkan justru karena Pak Yusril tidak pernah marah, tapi penuh wibawa. Jadi sekarang mereka terpaksa diam dan meringkas.
Niken, aku boleh ikut lihat buku diktatnya? Aku belum punya buku itu. tanya Pandu.

Niken berpikir sejenak, lalu menjawab, Nih, pinjam saja. Aku sudah selesai meringkas. Kemarin malam aku nggak ada kerjaan, jadi aku sudah meringkas separuh. Pas anak-anak ramai tadi aku terusin meringkas yang separuhnya. Jadi kamu boleh pinjam, nih, kata Niken sambil mendorongkan buku itu ke arah Pandu. Sebetulnya Niken belum selesai, kurang satu sub-bab lagi, tapi dia malas sharing satu buku dengan Pandu. Lagipula Pandu perlu mulai dari awal, sedangkan Niken sudah hampir selesai, tinggal halaman terakhir.
Terima kasih, kata Pandu, lalu mulai menulis.

Niken mengambil buku kecil dari tasnya, menyobek secarik kertas dari situ, lalu sibuk menulis pula.
Kamu lantas menulis apa? bisik Pandu.
Niken diam saja. Malas dia menjawab cowok yang satu ini.
Niken?
Bukan urusanmu. Kamu meringkas saja, sana.
Iiih galaknya nona ketua kelas. kata Pandu, lalu meneruskan ringkasannya.
Diam-diam Pandu mencoba membaca yang Niken tulis. Cuma ingin tahu saja. Sekilas empat baris terbaca.

Penasaran Ingin tahu kelanjutan cerita Novel Mata Elang I Download Di sini
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Mata Elang II

By Hey Sephia

Niken baru saja menyalakan telepon genggamnya setelah beberapa langkah keluar dari perpustakaan yang terletak di gedung utama Fakultas Kedokteran UI, ketika telepon itu berdering. Dari nadanya Niken sudah menebak siapa yang menelepon. Nada itu memang
dibuatnya khusus untuk..

"Pandu!" kata Niken menjawab telepon tersebut. Setelah memastikan bahwa dia benar-benar sudah keluar dari gedung perpustakaan tersebut, Niken lalu meneruskan, "Kamu seperti tukang ramal saja. Tahu-tahunya kalau aku baru saja menghidupkan telepon ini?"

"Bagaimana tidak tahu? Dari tadi aku berusaha menghubungi kamu. Sudah kira-kira dalam sejam ini tiap lima menit aku telepon kamu. Apa nggak ingat kalau kita janjian ketemu di internet sore ini sekitar... hmm.. sejam yang lalu? Kamu ini di mana sih?" tanya Pandu tidak sabar.

"Oh...sori sori, Ndu. Aku lupa. Ada tugas anatomi yang belum aku selesaikan. Baru saja aku keluar dari perpus, buku-buku yang aku ingin pinjam ternyata sudah 'out' dipinjam semua. Terpaksa aku ambil materi dari jurnal-jurnal medis. Mudah-mudahan saja boleh. Aku tadi bermaksud telepon sebelum berangkat ke perpus, tapi aku tergesa-gesa, bahkan belum sempat makan siang. Ini kamu masih di internet cafe?", tanya Niken yang merasa bersalah karena mengingkari janjinya. Kalau saja tangannya yang satu tidak membawa hp, dan yang satunya lagi tidak penuh jurnal dan folder, dia pasti sudah menepuk dahinya berulang-ulang.

"Sudah nggak. Aku cuma bawa uang ngepas untuk satu jam. Karena sudah lewat satu jam, ya aku pulang. Habis ini kamu langsung pulang? Nanti aku telepon lagi kalau kamu sudah sampai kost. Lebih murah telepon ke kost kan daripada telepon ke hp, Fei."
Fei adalah panggilan kesayangan Pandu untuk Niken. Di dunia ini kecuali Pandu cuma beberapa orang di keluarganya saja yang memanggilnya Fei.

"Iya. Ini aku bawa banyak jurnal dan folderku berat sekali. Aku musti pulang. Tapi aku nanti pergi lagi ada latihan band hari ini. Katanya si Surya mau nraktir anak-anak sehabis latihan band. Hari ulang tahunnya. Nanti kalau tidak terlalu malam pulangnya, aku telepon kamu, deh?

Bagaimana?" "Baiklah. Tapi kalau kamu diburu deadline, mustinya kamu di rumah saja kerjain itu tugas-tugas yang menumpuk. Sekali-sekali nggak hadir latihan band kan nggak dosa." kata Pandu berusaha menasehati gadisnya yang kelihatannya akhir-akhir ini sibuk sekali itu.
"Mustinya sih iya. Nggak enak sama anak-anak. Aku sudah janji..."
"Ya sudah, ya sudah. Jangan pulang malam-malam. Nanti sakit malah kamu nggak bisa bikin tugas."

"Iya, boss! Sejak kapan kamu suka ngatur-ngatur begini?" sahut Niken setengah bercanda.
"Aku bukan bermaksud..."
"Duh, Pandu, kamu koq serius sekali." potong Niken. "Aku tahu, sayang. Don't worry. I can take care of myself. Aku buru-buru nih. Sampai nanti yah.. bye.."
Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memencet tombol 'OFF' di teleponnya. Sudah tiga kali ini Niken membatalkan janji untuk bertemu dengannya. Tidak tiga kali berturut-turut, sih, tetapi tiga kali secara total. Pertama sekitar tiga bulan yang lalu, saat Niken berjanji untuk pergi ke Bandung setelah mendapat libur beberapa hari untuk mid-semester. Kedua kali ketika ulang tahun Niken dan Pandu berjanji untuk menemuinya di Jakarta. Niken kebetulan ada test kimia kedokteran besoknya. Ini yang ketiga kali. Tidak separah yang dua sebelumnya, tapi janji tetap saja janji.

"Ah sudahlah", desah Pandu. "Toh liburan Paskah kemarin Niken datang ke Bandung. Pasti Niken sedang dibanjiri oleh tugas kuliahnya." Pandu menghibur dirinya sendiri.
"Ada apa, Romeo? Koq melongo begitu kayak kulit kacang yang kehilangan isinya?" Gurauan Erik, teman satu kost Pandu, membuyarkan lamunannya.

"Juliet, oh Juliet.. Di manakah dikau Juliet...??" sahut Agung yang ternyata datang bersama Erik, sambil membawa sebungkus makanan di tas plastik.
"Bawa apa kamu, Gung?" tanya Pandu menyelidik sambil mencium-cium bau tas plastik tersebut.
Dari bentuknya sudah kelihatan pasti itu makanan.
"Batagor!!!" seru Pandu yang sensor penciumannya peka sekali pada makanan yang satu itu.
"Bagi dong..." pintanya seperti anak kecil minta permen.
"Bilang dulu, kenapa kamu bermuka masam begitu sambil menatap telepon? Pasti barusan menelepon Julietmu, ya kan?" tebak Agung sambil menjauhkan tas plastiknya dari hidung Pandu.

"Kalau iya, kenapa? Ayo dong jangan kejam begitu. Perutku langsung protes nih setelah hidungku mencium bau batagor yang harum."
"Berarti iya kan? Lalu kenapa kamu bermuka masam? Biasanya kalau habis menelpon si Juliet, kamu seperti macan tutul yang jingkrak-jingkrak kegirangan sampai rontok semua tutul-tutulnya.
Kenapa kali ini seperti macan tutul sakit gigi?" tanya Agung lagi. Pandu diam saja. Dihempaskannya tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah itu.

"Sudahlah, Gung. Kita kan memang beli untuk dimakan bersama-sama." jawab Erik yang bisa membaca situasi, sambil merampas tas plastik itu dari tangan Agung, lalu sibuk membuka isinya.
"Ayo, kamu ambil piring dan garpu", perintahnya kemudian, sambil menatap Agung.
"Piring?? Garpu??? Erik, sejak kapan kamu jadi beradab begini? Batagor itu lebih nikmat dimakan pakai tangan, seperti ini nih caranya...!" kata Agung sambil mempraktekkan gaya makan batagornya. Diambilnya batagor, langsung dimasukkan ke mulutnya tanpa digigit terlebih dahulu, dikunyah-kunyah sebentar, lalu sambil setengah melotot, ditelannya. Lalu ekspresi wajahnya berubah, sekarang terlihat sangat puas. Lidahnya menjilat minyak yang masih menempel di jemari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengelus-elus perutnya yang agak buncit.
"Nikmat...!"

Penasaran Ingin tahu Novel Mata Elang II lebih lengkap Download Disini
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Kugapai Cintamu

By Ashadi Siregar

Ketika Flamboyan Berbunga

SEPERTI rumput hidup manusia. Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab suci. Lalu, dalam realita : rerumputan yang kuning digaring matahari akan kembali hijau di musim hujan. Cemara tak pernah kehabisan daun kendati angin tak bosan-bosannya meluruhkannya. Flamboyan sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian kembali rimbun berbunga molek. Jadi, tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan, sesekali. Ah, terlalu optimistis agaknya. Ya, walaupun mungkin berlebihan, begitulah bagi Tody. Lelaki muda ini sesungguhnya menerima rumput kering dari realita. Tetapi, dia berusaha agar di hatinya berbunga flamboyan cantik.

Bunga flamboyan mekar di kepala gadis-gadis. Oh, bukan. Cuma pita-pita berwarna merah, kuning, atau hijau mengikat kucir-kucir rambut mereka, calon-calon mahasiswi yang sedang menjalani Mapram. Mapram atau perpeloncoankah namanya, bagi Faraitody tak perlu dipersoalkan. Soal nama, itu urusan menteri PDK. Dia cuma tahu, masa itu menggembirakan. Kegembiraan sesaat, dan kemudian terkulai layu dalam realita rumput kering.

Dia menatap tubuh calon-calon mahasiswa yang duduk di lantai. Satu-satu wajah itu diamatinya. Dan, seperti tahun-tahun yang dulu di Kampus Gadjah Mada itu, dia melihat pancaran yang serupa. Pancaran wajah yang pasrah, patuh, dan penurut. Untuk beberapa hari ini, dia merasa dirinya bisa menjadi penguasa. Hitam katanya adalah hitam yang harus dikerjakan cama-cami yang diperintahnya.

Tetapi, kekuasaan yang hanya beberapa saat itu tak lagi menarik, sekarang. Tahun-tahun yang berlalu telah mengajarkan untuk jangan percaya pada kelembutan gadis-gadis mahasiswi baru itu. Selama masa penggojlogan, mereka akan semanis anak kelinci jinak. Tetapi, serentak mereka mendadak jadi putri kahyangan begitu perpeloncoan berakhir. Putri kahyangan yang senyumnya aduhai sinis, yang sombongnya allahurabbi.

Memang ada satu-dua mahasiswa senior berhasil memetik mawar baru di kampus ini. Tetapi, yang dialami Tody: dia selamanya salah pilih. Dia mendekati gadis yang ternyata pura-pura melayani. Jadi sambutan untuk sekuriti saja. Seperti tahun yang lalu misalnya. Dia menerima ucapan. "Maaf, Mas Tody. Malam Inaugurasi
nanti saya dijemput teman."

Atau tahun sebelumnya, "Perkenalkan, Mas Tody, ini Mas... ." dan seterusnya, dan seterusnya. Itulah realita rumput kering. Maka sekarang tak lagi ada niat mendekati seorang gadis pun. Dia mengikuti Mapram itu hanya sebagai panitia tak lebih. Dia bekerja dengan kerutinan yang pernah dialaminya selama bertahun-tahun menjadi aktivis di kampus itu. Dia mengawasi acara olah raga, perlombaan seni, mengawasi ini-itu tanpa ambisi bercinta.

Pengalaman membuat dia sebagai introvert jera. Dia lebih banyak merenungi dirinya sendiri. Lebih banyak berbicara dengan diri sendiri. Apakah yang salah dalam diriku? Kenapa aku selalu mengalami kepahitan dalam berhubungan dengan gadis-gadis? Dia membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Dengan Daniel, sebenarnya aku tidak
kalah, pikirnya. Tapi, kenapa Daniel bisa memperoleh seorang gadis yang setia
mendampinginya?

Atau Fauzi. Dia juga punya pacar yang sangat manis. Kenapa dia bisa? Kenapa aku tidak? Secara fisik, aku tak terlalu buruk. Dan, Tody mengawasi bayangan dirinya di kaca jendela. Dia bertemu dengan mata yang lunak, dan profil yang lunak pula. Dagunya tidak sekasar dagu lelaki-lelaki yang lahir di daerahnya, di Nusatenggara Timur sana. Malahan terlalu halus. Maka dia ingat waktu kecil dulu. Kerap sekali dia diganggu teman-temannya hanya karena kehalusan wajah dan tubuhnya. Oleh karena itu dia kerap berkelahi, dan kerap dikucilkan teman-temannya. Sekarang, dia tidak dikucilkan oleh siapa pun. Tetapi, realita rumput keringlah yang dihadapinya dari hari ke hari. Cuma, tak seorang pun tahu. Tiap orang tetap mengenal dia sebagai aktivis mahasiswa yang ramah, yang selalu hadir dalam setiap kegiatan di kampus. Dalam kegiatan sekarang, dia lebih berhati-hati. Terutama dalam menghadapi gadis-gadis cantik. Dia tak mau sekali lagi terkecoh. Terkecoh oleh kejinakan gadis yang hanya sekadar mencari pelindung selama penggojlogan.

Penasaran Ingin tahu kelanjutannya Pendekar Kelana sampai Tamat

Silakan Download Novel Kugapai Cintamu disini

Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Kabut Pagi DiSurya Kencana

By : Aprilliawati J Moenaf

Hari menjelang senja ketika rombongan Pataga menuruni Lembah Suryakencana dari arah Gunung Gemuruh. Hamparan lembah yang luas tak bertuan itu memutih oleh bunga-bunga edelweiss yang tengah memutik. Lewat temaram senja, edelweiss tampak berpijar-pijar memantulkan cahaya. Sungguh pesona alam yang sangat mengagumkan. Sebagian anggota pencinta alam itu melangkah dalam hening. Udara dingin terasa keras menusuk kulit.

Rudi yang berjalan paling depan memalingkan wajahnya sejenak ke belakang. Sebentar ia menghentikan langkahnya. Matanya mencari-cari Keke. Tak tampak. Heh, di manakah gadis itu?

Sekali lagi diperhatikannya kawan-kawannya yang lain satu per satu. Yah, bukan saja Keke yang tidak ada. Heri, Evi, dan Lidia pun tak nampak di dalam rombongan.
"Wik, ke mana Heri?" tanya Rudi kepada Wiwik yang berjalan paling dekat dengannya.
Wiwik menaikkan bahunya sedikit. "Entahlah! Mungkin masih di belakang."

Wajah cowok itu sedikit khawatir menatap Wiwik. Diliriknya jam tangan di lengan kirinya. Pukul lima lewat empatpuluh menit. Berarti sudah duapuluh menit yang lalu mereka berkumpul di Puncak Gemuruh tadi. Seharusnya rombongan yang dipandu oleh Heri pun sudah sampai di lembah. Perjalanan dari Puncak Gemuruh ke lembah tidak terlalu jauh, paling hanya memakan waktu sepuluh menit.

"Mengapa, Rud?" tegur Wiwik.

"Oke, Wik. Kau jalan duluan. Aku tunggu rombongan Heri di sini."

"Ah, kau terlalu khawatir, Rud. Mereka tidak apa-apa. Heri toh, bukan untuk pertama kali ke tempat ini. Setiap gladian, ia selalu ikut, kan?"

Rudi tersenyum kecil. "Ya. Tapi, sekarang ia tetap sebagian dari rombongan kita. Jangan lupa itu!"

Wiwik tertawa gelak, kemudian melangkah meninggalkan Rudi sendirian.

"Ah!" Cowok itu mengeluh singkat. Tidak seharusnya memang ia terlalu khawatir seperti sekarang ini. Tapi... entahlah. Dengan ikutnya Keke dalam rombongan ini, membuat rasa khawatirnya seperti berlebihan.

"Heiiii...!" Terdengar teriakan suara Heri dari sela-sela pohon besar yang menutupi Gunung Gemuruh.

Rudi tersentak. Matanya berusaha mencari-cari sosok Heri. Tapi tak nampak.
"Oiiii...!" Terdengar lagi suara Heri memekik.

Setengah berlari, Rudi menyongsong ke arah suara itu.

"Heri! Heri! Kau di mana?" teriaknya.

"Kami tersesat!" Kali ini teriakan Heri terdengar tidak terlalu jauh.

"Kalau begitu tak usah kau lanjutkan perjalanan itu. Sebaiknya kembali ke jalur semula!" ujar Rudi dengan penuh rasa khawatir. Ia tak tahu, mengapa tiba-tiba saja ia begitu cemas. Di pelupuk matanya terbayang wajah Keke. Ah, cepat-cepat ditepisnya bayangan gadis itu.

"Heri, kau masih di situ?"

Sekarang tak terdengar jawaban Heri. Perasaan Rudi semakin gelisah.

"Heri! Heri kau masih di situ?" ulangnya sekali lagi.

Tak ada jawaban.

"Heri, kau kembali ke jalan semula!"

Tetap sepi, tak ada jawaban. Hening di lembah itu tiba-tiba saja terasa sangat mencekam.

Rudi menatap langit yang kian gelap. Dalam pikirannya kini, yang terbayang adalah Keke. Kasihan gadis itu. Baru pertama kali mendaki, sudah tersesat. Bah! Rudi memaki udara kosong. Ini tentu eksperimen Heri untuk mencari jalan baru menuju lembah. Anak satu itu memang sok tahu, sok pahlawan!

Kecemasan Rudi semakin kuat. Apalagi belum ada tanda-tanda mereka tiba di lembah.
"Heri! Evi! Lidia! Ke...!"

"Hei!" Tak jauh darinya, Heri — diiringi langkah Lidia, Evi, dan Keke — melambai ke arahnya. Wajah mereka biasa saja, tak ada tanda-tanda mereka nyaris tersesat di dalam hutan sana. Bahkan ia melihat Keke, gadis yang begitu di khawatirkannya, asyik mengobrol bersama Lidia sambil tertawa ceria.

Sialan, umpat Rudi dalam hati. Kiranya cuma ia saja yang dicekam rasa cemas. Sedangkan mereka yang dicemaskan bersikap biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Sialan! Sekali lagi Rudi mengumpat.

"Kau ajak ke mana mereka, Her?" tanya Rudi, menahan dongkol.

Heri tersenyum sambil menepuk pundak cowok itu, akrab. "Kami hampir tersesat tadi. Aku mengusulkan untuk menuruni jalur baru, yang kuperhitungkan bisa memotong jalan. Eh, ternyata jalur itu buntu!" Heri mengumbar gelak seenaknya, seakan tidak punya perasaan bersalah setelah membuat Rudi khawatir.

"Untung saja kau tak mati di sana!" rutuk Rudi, yang masih diselimuti perasaan dongkolnya.

Heri kembali tertawa. "Yah, rasanya aku memang tak mungkin mati di sini. Terlalu menyedihkan, karena bangkaiku tak ada yang mengurus."


Penasaran Ingin tahu kelanjutannya dari Cerita Kabut Pagi DiSurya Kencana

Buruan Download selengkapnya disini
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Cintaku di Kampus Biru

By Ashadi Siregar

Gerumbunan semak itu bergerak-gerak. Bunga-bunga putih dan merah di ujung ranting ikut bergoyang. Diterpa angin. Dua pasang kaki menjulur dari balik semak itu. Sepasang berbetis putih, jenjang, dan mungil. Sandalnya berwarna kuning. Sepasang yang lain dibalut celana jean biru. Bersandal jepit.

Aroma segar dedaunan ditambah lagi harum bunga, menandakan betapa nyamannya tempat itu. Angin membuat pucuk-pucuk cemara meliuk pelahan. Pohon-pohon flamboyan berbunga.
Gedung Induk Kampus Gadjah Mada tertegak sepi. Jalan menuju gedung bertingkat tiga itu
dipanggang matahari. Tetapi, di pinggir jalan, sejuk. Matahari tak bisa menembus dedaunan yang melindungi tanah. Dari balik semak terdengar suara lelaki, "Aku mau pulang.”

Kaki lelaki itu ancang-ancang akan berdiri, tetapi kaki jenjang bersandal kuning menekan kaki lelaki itu.
“Nanti.”
Lelaki itu berusaha melepaskan kakinya dari tindihan. Semak-semak bergoyang. Di balik semak itu terjadi pergumulan.
"Bah, kau mau memperkosa aku!" kata lelaki itu.
"Brengsek! Diamlah!" kala si perempuan. Lalu terdengar suara mulut yang terdekap, "Hmmm…..
" Tetapi, 'hmmm' itu terputus, diganti suara lelaki dalam napas tersengal, "Cukup. Aku malas.
Awas kakimu. Aku mau pergi."
"Ah, ssshhh... ."
"Tidak mau. Jangan tindih aku. Ke sana kau!"
"Bah!"
"Hari ini tiada cinta," kala lelaki itu.
"Hmmm, gaya Motinggo, tapi kurang erotis!" Perempuan itu mengejek.
Gerumbulan semak bergoyang lagi.
"Ah, jangan! Aku mau pulang," kala lelaki itu.
"Alaaa, sok kau."
"Sudah kubilang, hari ini tiada cinta. Kepalaku pusing memikirkan ujian, uang kuliah yang belum
dibayar, pemilihan Dewan Mahasiswa, resolusi untuk dosen brengsek…."
"Kau yang brengsek! Sok jadi orang penting!"
"Bah!"
"Bah!" ejek perempuan itu.
"Pokoknya aku mau pulang. Membaca di dekatmu, hilang konsentrasiku."
"Dasar!"
"Dasar apa?"
"Dasar lelaki! Dulu menguber-uber, sekarang berlagak!"
"O, perempuan! Dulu jual mahal, sekarang menggerogoti waktuku yang berharga."
"Dulu kenapa kau tidak merasa digerogoti? Malah membuang waktu berhari-hari untuk
mengejar-ngejar!"
"Lain Bengkulu lain Semarang. Sekarang, sudahlah. Pokoknya, aku cinta padamu. Tetapi, kita
harus bercinta sedikit metodologis. Pakai logika. Jangan sentimentil."
"Dasar lelaki!" kala perempuan itu.
"Ya, dasar. Sudah? Nah, geser kakimu. Aku mau berdiri."
"Kau datang tidak nanti malam?" Ada nada ancaman dalam suara perempuan itu.
“Bah, perkosaan.”
"Bah, bah, bah! Mau datang atau tidak? Kalau tidak, jangan lagi pijak rumahku."
“Aku tidak suka di-fait accomply. Cinta tak boleh her-fait accomply. Kayak kawin Hansip saja."
"Mau datang atau tidak?"
Tak ada jawaban. Semak-semak tersibak. Anton keluar dari gerumbulan semak itu. Dia
mengibaskan rumput di celananya. Lalu bersiul meninggalkan tempat itu.
Semak tersibak lagi. Marini membersihkan rumput-rumput yang melekat di roknya yang mini dan kemudian merapikan rambutnya.
"Bajingan!" katanya ke arah punggung Anton yang kian menjauh.
Anton tak bereaksi. Marini memungut batu kerikil, dan melemparkannya ke arah lelaki itu.
"Bajingan!" serunya. Lemparannya tak mengenai sasaran. Anton cuma melengos sedikit, dan melangkah lebih bergegas.

Gadis itu mengawasi punggung lelaki itu. Dia melangkah mengikutinya. Tetapi, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Lalu dia kembali masuk ke gerumbul semak, mengambil buku-bukunya.

Sembari berjalan, dia menggerundel berkepanjangan, "Dasar lelaki! Tak tahu diri! Dulu bukan main cumbuannya. Sekarang, berlagak alim. Dasar!"
Marini melompati parit, dan keluar dari areal rerumputan. Kini dia berjalan di Bulaksumur Boulevard, jalan besar beraspal yang membelah kampus itu. Dia berjalan ke selatan, menjauhi Gedung Induk Universitas Gadjah Mada. Berpunggungan dengan Anton yang berjalan ke utara.

"Itu cuma gejala." Suara tak terdengar berputaran di kepala Marini. "Pasti dia memang sedang mencari-cari alasan untuk memutuskan hubungan. Pasti dia sudah bosan. Bajingan itu, pasti sedang mengejar-ngejar gadis lain. Tapi, siapa sasaran barunya? Baik, akan kuselidiki. Jangan dia kira aku akan pasrah saja. Jangan dia kira dia bisa seenaknya merayu, lalu meninggalkan setelah bosan. Jangan dia kira wanita bisa diperlakukan sebiadab itu. Aku akan bertindak kalau betul dia mencintai gadis lain. Ah, si playboy itu!"

Di bawah matahari yang memijar merah, Marini mendekap buku-bukunya di dada, dia menekuri ujung sandalnya yang menendang-nendang kerikil. Sepuasnya matahari menciumi wajah gadis itu. Wajah yang lonjong, dengan mata yang redup, bulu mata yang lentik, hidung yang mungil tapi mancung, dan bibir yang mengulum lunak-basah.
Marini mengalihkan tatapannya dari kaki pindah ke buku-bukunya. Lalu ke dadanya. Dia
menghela napas panjang. Mengeluh tanpa bisa didengar. Dia menatap dadanya yang terlalu membusung.

"Barangkali dia sekarang sedang mengejar- ngejar bom seks," katanya dalam hati. "Makanya mulai dingin. Kalau dia memang mencintaiku, tentunya dia akan senang bercumbu di semak-semak. Toh dia yang mengajak pertama kali ke semak itu. Dia yang menamakan tempat itu 'Semak Cinta'. Love grass. Semak Cinta. Hmmm, memang cintanya bersemak berangkali."
Gadis itu melewati Rumah Sakit Panti Rapih. Orang-orang yang akan bezuk menunggu jam
dibukanya pintu. Di dekat pagar, seorang lelaki muda mengawasi Marini. Marini mendongkol melihat mata lapar lelaki itu.
"Bajingan!" kutuknya. "Pasti dia akan bezuk istrinya. Istrinya mungkin melahirkan.

Tapi, masih sempat juga melotot melihat perempuan lain. Dasar lelaki!"
Marini tak jadi menawar becak di tempat itu. Tatapan lelaki-lelaki di halaman rumah sakit itu membuatnya risi. Kakinya yang jenjang semakin telanjang rasanya. Marini melangkah terus menyelatani jalan. Tak mempedulikan dering-dering becak. Hatinya rusuh. Benci, gondok, mangkel, dan semua yang senada itu berbauran di dadanya.
"Aku telah tahu gejalanya. Telah kelihatan gejalanya. Dia semakin tak acuh. Membuat gara-gara agar aku marah. Tapi, akan kulihat. Sampai berapa lama dia mati membuat intimidasi begitu. Aku akan bersabar. Pokoknya aku akan menjaga diriku sebagai perempuan setia, bukan yang gampang memutus cinta."

Penasaran Ingin tahu kelanjutannya .............

Download selengkapnya disini

Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Puteri Tidur

Dari kecil aku begitu terbiasa melihat kebiasaan ibu yang tidak seperti ibu dari teman-temanku lainnya. Ia selalu memutuskan meninggalkan pekerjaannya yaitu menulis dan membaca untuk kemudian pergi ke peraduan. Ia tak akan pernah benar-benar menuntaskannya, meninggalkan sejenak segala aktivitasnya, tidur, dan baru kembali melanjutkannya.

Saat ibu tidur, sering kutemui ada buku dengan halaman terbuka di samping tempat tidurnya. Atau, ada pula tulisan yang terputus saat ia berangkat ke tempat peraduannya. Uniknya, di ambang batas tidurnya, ibu bisa tiba-tiba terjaga untuk melanjutkan sedikit aktivitas. Dan kemudian, ia akan benar-benar meneruskan lelapnya.

Ibuku seorang penulis cerita. Dari tangannya bisa berbuih-buih suara kisah mengalir milik tokoh-tokoh antah berantah terciptaa. Sebelum ia mempublikasikan karyanya, akulah pembaca pertamanya. Ia pun penulis idolaku sejak awal aku mengenal aksara.

Tidak hanya pada aktivitasnya dalam menulis atau membaca buku saja kebiasaan ibu untuk yang satu itu muncul. Ibu suka meninggalkanku dalam rasa penasaran ketika dongeng yang diceritakannya belum terputus. Biasanya, ibu suka menceritakan kembali tentang cerita novel yang sedang digarapnya padaku. Dan seperti kebiasaannya, ibu meninggalkanku dengan rasa penasaran pada dongeng dari novel yang belum berujung.

Penasaran Ingin tahu kelanjutannya .............

Download selengkapnya disini
Selengkapnya...

Read On 0 komentar

Fallow me

 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2009