Suling Emas Jilid 73

Kalau disatu pihak Pangeran Kiang Ti girang bukan main atas usul Suma Boan, karena dia sendiri sampai mati pun tidak berani lancang melamar puteri Pangeran Suma Kong yang kaya raya itu, adalah di lain pihak Suma Ceng mendengarkan berita yang disampaikan kakaknya itu, dengan banjir air mata.

"Koko... ah, mengapa begini...?" ratap tangisnya. "Dimana... Kanda Bu Song...? Kau apakan dia...?

Suma Boan marah sekali kepada adiknya, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang kakak membuatnya kasihan juga. ia mendongkol bahwa dalam keadaan seperti itu adiknya masih saja memikirkan Bu Song !

"Ceng Ceng! Kau ini puteri seorang bangsawan agung! Puteri seorang pangeran besar! Pergunakanlah pikiranmu dan akal sehat. Mengapa kau merendahkan diri sedemikian rupa? Apakah kau hendak menyeret nama baik ayah dan keluarga ke dalam lumpur?"

"Aku... aku... cinta padanya, Koko..."

"Setan! Sudah, jangan sebut-sebut lagi namanya. Bu Song sudah mampus!"

Ceng Ceng menangis tersedu-sedu. "Kaubunuh dia...! Ah, kaubunuh dia, Koko... kenapa kau tidak bunuh aku sekali...!"

"Goblok? Kalau tidak ada kakakmu ini yang berjuang mati-matian, apa kaukira sekarang kau masih hidup? Ayah lebih senang melihat kau mati daripada kau bermain gila dengan seorang macam Bu Song."

"Ohhh..., Ayah...!" Suma Ceng makin sedih mendengar hal ini.

“Dengar, Ceng-moi. Mengadakan hubungan gelap, apalagi dengan seorang yang kedudukannya rendah, hukumannya hanya mati bagi seorang gadis bangsawan. Akan tetapi aku berhasil meredakan kemarahan Ayah dan mengusulkan agar kau dijodohkan dengan Pangeran Kian Ti."

"Aku tidak mau... tidak sudi...!"

"Plak!" Suma Boan menampar pipi adiknya sehingga

Suma Ceng hampir terpelanting jatuh.

"Auuhhh!" Suma Ceng berdiri, memegangi pipinya dan memandang dengan mata terbelalak kepada kakaknya. Biasanya, kakak kandungnya ini amat mencintanya, tidak pernah memukulnya. Maka ia menjadi kaget dan heran, lupa akan kesedihannya dan memandang dengan mata terbelalak.

"Ceng-moi, kau tahu apa artinya kalau perbuatanmu yang tak tahu malu ini diketahui orang luar? Cemar yang menimpa keluarga kita berarti menodai nama keluarga raja! Dan akibatnya, tidak hanya kau yang menerima hukuman, juga Ayah dan kita sekeluarga! Mungkin Ayah akan dihentikan, dipecat, dan dibuang! Nah, inginkah kau melihat hal itu terjadi?"

Suma Ceng menundukkan kepala, terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala. Suma Boan mendekati dan mengelus rambut adiknya. "Kau tahu aku sayang kepadamu dan aku melakukan ini untuk kebaikanmu pula. Kiang Ti adalah seorang pemuda yang baik, dia keturunan pangeran setingkat dengan ayah. Tentang dia miskin bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Bukankah Ayah keadaannya cukup? Nah, adikku yang manis, kau harus menurut demi kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita."

Suma Ceng menubruk dan menyembunyikan muka di dada kakaknya sambil menangis tersedu-sedu. Suma Boan mengelus rambut adiknya dan tersenyum, maklum bahwa bujukannya berhasil.

Demikianlah, dalam enam bulan itu juga, secara meriah sekali Suma Ceng dikawinkan dengan Kiang Ti, pangeran yang miskin. Di balik tirai yang menutupi mukanya, Suma Ceng menangis. Sebaliknya, Kiang Ti tersenyum-senyum girang. Memang ia pernah melihat Suma Ceng dan mengagumi kecantikan puteri pangeran ini. Kini gadis yang membuatnya rindu dan mabok kepayang itu secara tak terduga-duga dijodohkan dengannya. Ia benar-benar merasa heran karena belum pernah ia mimpi kejatuhan bulan! Ia merasa untungnya baik sekali.

Akan tetapi, kurang lebih dua tahun kemudian setelah Suma Ceng menjadi isteri Kiang Ti, keadaannya menjadi terbalik sama sekali. Kini keluarga Suma Konglah yang merasa untungnya baik karena mempunyai mantu Kiang Ti. Seperti telah diketahui, Kiang Ti adalah putera seorang pangeran yang menjadi keponakan Jenderal Cao Kuang Yin. Dan kebetulan jenderal inilah yang menggulingkan tahta kerajaan, kemudian menjadi kaisar pertama dari Dinasti Sung! Tentu saja, Kiang Ti sebagai keponakan Kaisar, kini menjadi pangeran yang terhormat dan tinggi kedudukannya dan kerena itu, keluarga Suma juga ikut terangkat naik!

Memang hal ini sedikit banyak ada pengaruhnya dan menguntungkan Suma Kong. Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang korup. Akan tetapi kaisar baru, yaitu bekas Jenderal Cao Kuang Yin, walaupun tahu akan watak korup pangeran ini, namun mengingat bahwa masih ada pertalian keluarga melalui Kiang Ti, tidak mau mengutik-utik tentang perbuatan-perbuatannya yang lalu, hanya memberi pensiun kepada Pangeran Suma Kong dan membiarkan keluarga pangeran yang sudah kaya raya itu pindah dari kota raja, ke kota An-sui. Adapun pangeran Kiang Ti yang masih keponakan Sang Kaisar, tentu saja dapat tinggal di kompleks istana yang megah, bersama isterinya yang telah mempunyai seorang putera.

Pangeran Kiang Ti amat mencinta isterinya, dan karena sikap yang amat baik, penuh cinta dan penuh kesabaran dari Kian Ti ini maka sedikit banyak kepahitan hati Suma Ceng karena terpisah dari kekasihnya terobati. Demikianlah keadaan keluarga Suma selama dua tahun itu, dan kini biarpun Suma Boan tinggal di An-sui bersama ayahnya, namun karena ia kaya raya dan masih terhitung keluarga kerajaan, di tambah pula dengan ilmu kepandaian yang tinggi sejak ia menjadi murid Pouw kai-ong, Suma Boan amat terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal Suma Kongcu yang berjuluk Lui-kong-sian Si Dewa Guntur?

Mengandalkan kedudukan keluarganya sebagai sanak kaisar, serta harta benda dan ilmunya, pemuda bangsawan ini malang melintang di kota raja dan sekitarnya tanpa ada yang berani mengganggunya.

--

Bu Song meninggalkan pantai selatan dan menuju ke utara. Akan tetapi baru saja ia meninggalkan pantai, ia mendengar suara aneh di atas kapalnya. Ketika ia memandang ke atas, ternyata seekor burung yang buruk rupanya terbang melintas dekat kepalanya sambil mengeluarkan bunyi "kuk-kuk-kuk!" dan teringatlah Bu Song bahwa pulau Pek-coa-to tadi pun serasa pernah ia melihat burung ini, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana. Burung itu adalah burung hantu, atau burung malam yang matanya berkilauan seperti mata kucing, bertelinga seperti kucing pula. Burung itu terbang cepat sekali dan lenyap di dalam sebuah hutan kecil di depan.

Hari telah menjelang senja ketika Bu Song mempergunakan ilmu lari cepat memasuki hutan kecil itu. Hutan itu kecil namun liar dan gelap, hutan belukar yang agaknya tidak pernah didatangi manusia. Banyak bagian yang gelap, apalagi karena di situ terdapat batu karang. Agaknya di jaman dahulu, air laut sampai di bagian daratan ini.

"Aduhhh...! Setan iblis siluman tak bermata! Perut orang diinjak-injak seenaknya, keparat!" Bu Song juga kaget bukan main. Tadinya tidak ada apa-apa di depannya, bagaimana ketika ia berlari, kakinya sampai bisa menginjak perut orang tanpa ia ketahui? Betapapun suram dan agak gelap tempat itu, tak mungkin ia tidak melihat seorang tidur telentang di depannya menghalang jalan. Tak mungkin! Tadinya benar-benar tidak ada siapa-siapa, bagaimana tahu-tahu kakek aneh itu dapat terinjak perutnya oleh kakinya? Ia demikian kaget sampai ia berjungkir-balik ke belakang dan mendengar suara marah-marah itu ia memandang penuh perhatian. Seorang kakek yang aneh. Tubuhnya pendek sekali seperti seorang anak berumur belasan tahun. Kakinya yang kecil telanjang, kedua tangannya juga kecil. Akan tetapi kepalanya besar, kepala seorang kakek tua renta penuh jenggot dan kumis panjang. Rambutnya panjang terurai. Benar-benar seorang kakek aneh dan kalau memang di dunia ini ada setan iblis atau siluman seperti makian kakek tadi, kiranya kakek inilah patut menjadi seorang diantaranya. Akan tetapi karena kakek itu pandai mengumpat caci, agaknya ia manusia biasa, pikir Bu Song. Cepat-cepat ia menjura dan memberi hormat.

"Mohon maaf sebesarnya, Kek. Saya tidak buta dan tidak sengaja menginjak perutmu, akan tetapi aku berani bersumpah bahwa tadi aku tidak melihat ada orang di sini!"

"Memang tidak ada! Kalau aku tidak sengaja membiarkan perutku tersentuh kakimu, apa kaukira akan mampu menginjak perutku? Cih!"

Diam-diam Bu Song terkejut dan juga mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sengaja hendak mempermainkannya, karena ia benar-benar tadi tidak melihat ada orang tidur di tengah jalan. Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian kakek itu sehingga dapat membiarkan dirinya terinjak tanpa dia yang mengijaknya melihatnya! Karena yakin bahwa kakek itu seorang sakti, ia cepat-cepat memberi hormat lagi dan berkata,

"Maafkan saya, Locianpwe (Orang Tua Sakti). Sesungguhnya seorang muda seperti saya mana berani bersikap kurang ajar terhadap seorang tua? Apalagi sampai menginjak perut Locianpwe, selain tidak berani juga takkan sanggup melakukannya. Bolehlah saya bertanya, Locianpwe siapakah dan apakah maksud hati Locianpwe mempermainkan seorang muda seperti saya yang tidak bersalah apa-apa terhadap Locianpwe?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak. Suara ketawanya amat tidak enak didengar, bukan seperti suara manusia. Bu Song teringat akan suara burung hantu yang tadi terbang lewat dan... benar saja, dari atas kini terdengar suara burung itu dan sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu burung hantu yang tadi itu kini sudah hinggap di atas pundak kanan kakek pendek itu!

"Siapa main-main? Aku sengaja membiarkan perutku kauinjak atau tidak, itu urusanku! Tapi yang jelas dan tak dapat dibantah lagi, kau sudah berlaku kurang ajar menginjak perutku. Betul tidak? Hayo, kausangkal kalau berani, kau... eh, siapa namamu?" Kata-kata dan sikap kakek ini amat menggelikan, tidak karuan dan seperti orang gila, atau seperti anak kecil yang nasar (mau menang sendiri).

"Nama saya Bu Song, Locianpwe, she... Liu."

"Heh, Bu Song! Hayo bilang, kau tadi menginjak perutku atau tidak?"

"Heh... betul... tapi... tapi saya tidak sengaja Locianpwe."

"Tidak sengaja atau sengaja, apa bedanya? Yang jelas, buktinya kau sudah menginjak perutku. Kau tahu siapa aku?"

"Saya belum mendapat kehormatan mengenal nama Locianpwe yang mulia."

"Aku adalah Bu Tek Lojin! Dan kau sudah berani menginjak perutku, hukumannya hanya satu, yaitu mati!"

Biarpun tadinya Bu Song menganggap kakek itu seorang sakti yang patut ia hormati, akan tetapi mendengar ucapan-ucapannya dan melihat sikapnya, ia mulai merasa mendongkol sekali. Betapa pun saktinya, kiranya kakek ini bukanlah seorang yang patut dihormati, bukan seorang sakti yang budiman. Akan tetapi ia tetap menahan kemarahannya, dan bersikap sabar. Ia belum pernah mendengar nama Bu Tek Lojin. Biarpun tak dapat disangkal bahwa ia tadi telah menginjak perut orang, akan tetapi ia melakukan hal ini tanpa ia sengaja, bahkan Si Kakek itu sendiri yang agaknya sengaja mencari perkara.

"Bu Tek Lojin," jawabnya, tidak lagi menyebut locianpwe karena ia merasa tidak senang melihat sikap kakek yang luar biasa ini. "Yang memberi kehidupan kepadaku adalah Tuhan. Apabila Tuhan yang berkenan mengambil kehidupanku, aku akan pasrah dengan rela, akan tetapi kalau orang lain yang menghendaki kematianku, biarpun orang itu seorang tua terhormat dan sakti seperti kau, bagaimanapun juga akan kupertahankan hak hidupku!"

Kakek itu memandang dengan mata tajam dan tertarik. "Aha, kau pandai bicara. Bicaramu seperti seorang terpelajar, pakaianmu seperti seorang terpelajar pula, agaknya kau seorang sastrawan muda! Dan seorang terpelajar tentu pandai bermain catur. Orang muda, kau pandai main catur?"

Kakek aneh, pikir Bu Song. Bicaranya membolak-balik sukar ditentukan arahnya. Akan tetapi ia melayaninya juga dan menjawab, "Bermain catur tentu saja aku bisa, akan tetapi tidak pandai."

"Bagus!" Kakek itu terkekeh-kekeh dan dari balik bajunya ia mengeluarkan sehelai kertas yang dilipat-lipat dan segenggam biji catur. Kertas itu ia bentangkan di atas tanah dan ternyata adalah kertas gambar papan catur! "Duduklah, mari kita bertanding catur!"

Kakek itu tidak waras otaknya barangkali, pikir Bu Song. Akan tetapi ia menjadi curiga dan bertanya, "Bu Tek Lojin, apa arti permainan catur ini?"

"Ha-ha-ha, bicara tentang ilmu silat, memalukan sekali kalau aku melayani kau bertanding. Burungku akan mentertawakan aku, akan menganggap aku keterlaluan mendesak orang muda dengan ilmu silatku yang tentu saja jauh lebih unggul karena aku jauh lebih tua, menang pengalaman dan menang latihan. Akan tetapi permaianan catur tidak tergantung dari umur, melainkan dari siasat yang muda mengalahkan yang tua! Kalau tadi kukatakan bahwa kau telah berdosa kepadaku dan harus dihukum mati, sekarang aku memberi kesempatan kepadamu untuk menebus nyawamu dengan permaianan catur. Kalau kau menang, kesalahanmu menginjak-injak perutku habislah dan aku tidak menghendaki nyawamu!"

Bu Song diam-diam makin penasaran dan mendongkol. "Kalau aku kalah?" tanyanya, menahan hati panas.

"Ha-ha! Tentu saja kau kalah! Kalau kau kalah, berarti kau hutang dua kali kepadaku. Sebelum kubunuh kau harus menyerahkan suling emas dengan suka rela kepadaku!"

Berdebar jantung Bu Song. Kakek ini tidaklah gila, dan tidak bodoh. Kiranya sengaja mencari gara-gara dan mencari perkara karena ingin merampas suling dan untuk itu tidak akan segan-segan membunuhnya. Maklumlah Bu Song bahwa ia menghadapi hal yang amat gawat dan berbahaya dan oleh karena ini seketika ketenangannya timbul. Ia teringat akan nasihat suhunya bahwa dalam menghadapi perkara apapun juga, terutama sekali harus menenangkan hati. Ketenangan akan membuat kita waspada dan hanya dengan ketenangan kita akan dapat menguasai diri dan mengambil tindakan secara tepat. Maka ia lalu mengerahkan tenaga untuk menenangkan hati dan mengusir semua kekhawatiran. Bahkan wajahnya membayangkan senyum ketika ia memandang kakek itu.

"Orang tua, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa seorang perantau miskin seperti aku ini mempunyai sebuah benda dari emas?"

"Ha-ha-ho-ho-ho! Kau datang dari Pulau Pek-coa-to, aku mendengar suara suling di sana. Siapa lagi kalau bukan kepadamu suling itu diberikan oleh Ciu Bun si tua bangka berkepala batu? Ha-ha-ha! Dasar aku yang bodoh, percaya saja Si Kepala Batu telah dibunuh Couw Pa Ong!"

Makin kagetlah hati Bu Song. Kiranya kakek ini tahu pula bahwa ia bertemu dengan Ciu Bun di pulau. Kalau begini, tak dapat dihindarkan lagi. Kakek ini tentu luar biasa saktinya dan bertanding ilmu silat dengan kakek ini, jelas ia takkan menang. Namun bertanding catur, belum tentu! Suhunya sendiri, Kim-mo Taisu yang juga seorang jago catur, sukar mengalahkan dia dan menurut suhunya, ia memiliki bakat yang luar biasa untuk bermain catur.

"Baiklah, kuterima tantanganmu bermain catur, orang tua?" katanya, wajahnya berseri dan matanya bersinar. "Akan tetapi, sebagai seorang kakek yang sudah berusia tua, tidak sepatutnya engkau menipu mentah-mentah seorang muda seperti aku. Biarpun di sini tidak ada orang kecuali kita berdua, setidaknya kau tentu akan malu sikapmu itu diketahui burungmu."

"Apa? Menipumu mentah-mentah? Heh-heh, orang muda, jaga baik-baik lidahmu kalau kau ingin mati dengan lidah utuh nanti!"

"Bu Tek Lojin, orang bertanding apa saja ada taruhannya. Kita akan bertanding catur, jagi kita berdua harus bertaruh pula. Akan tetapi engkau tadi hanya menyuruh aku yang bertaruh, akan tetapi kau sendiri tanpa modal alias bermain tanpa taruhan. Kalau aku kalah, aku harus mati dan memberikan sebuah suling emas kepadamu. Akan tetapi kalau kau yang kalah, harus ada taruhannya pula!"

Mata kakek itu ketap-ketip (berkejap-kejap), agaknya otaknya dikerjakan keras-keras. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan berkata, "Omonganmu cengli (menurut aturan) juga! Nah, kalau aku kalah, kau boleh bunuh aku!"

Kembali Bu Song kaget. Jawaban-jawaban kakek ini benar-benar aneh dan mengagetkan karena tidak disangka-sangka. Akan tetapi melihat betapa sepasang mata itu bersinar-sinar dan biji matanya bergerak-gerak seperti tingkah seorang kanak-kanak nakal yang cerdik dan penuh tipu muslihat, mulut yang tersembunyi di balik jenggot itu bergerak-gerak seperti menahan tawa, Bu Song maklum dan berseru,

"Wah, ternyata Bu Tek Lojin tidak hanya pandai ilmunya, akan tetapi pandai pula akal bulusnya. Pantas saja menjadi Bu Tek (Tiada Lawan), kiranya selain mengandalkan kesaktian juga mengandalkan tipu muslihat!"

Kakek itu yang tadinya sudah duduk menghadapi kertas bergambar papan catur, kini meloncat tinggi sehingga burung di pundaknya kaget dan mengembangkan sayapnya menjaga keseimbangan tubuh. Bu Tek Lojin mencak-mencak dan menari dengan kedua kakinya berloncatan, kedua tangannya bergerak seperti orang lari di tempat, mukanya menjadi merah dan matanya bergerak-gerak melotot. "Kurang ajar kau! Tipu muslihat apa yang kaumaksudkan sekarang? Awas, jangan bikin aku marah!"

"Habis, taruhanmu benar-benar tidak adil. Kalau kau kalah main catur, kau bilang aku boleh membunuhmu. Tentu saja ini tidak adil sama sekali. Aku boleh membunuhmu, akan tetapi dalam hatimu kau mentertawakan aku dan bilang mana aku sanggup membunuhmu? Wah, Bu Tek Lojin kakek tua, kau memberikan ekor menyembunyikan kepala! Tidak mau aku diakali begitu. Kalau kau mau memenuhi sayarat taruhanku, boleh kaucoba-coba melawan aku bermain catur kalau kau becus! Akan tetapi kalau tidak mau memenuhi syarat taruhanku, sudahlah, kalau kau orang tua hendak berlaku sewenang-wenang terhadap orang muda dan tidak malu didengar semua orang kang-ouw betapa kakek yang bernama Bu Tek Lojin beraninya hanya menghina orang muda, terserah kau apakan aku, boleh saja!"

Sejenak kakek itu tidak dapat berkata-kata. Ucapan Bu Song itu benar-benar tepat sekali menghantam apa yang tersembunyi di dalam rencana pikirannya sehingga ia menjadi terkesima, seolah-olah menerima serangan tepat di ulu hatinya. Kembali matanya berkedip-kedip memandang kagum lalu berkata, "Wah, kiranya kau bukan bocah sembarang bocah, cukup cerdik! Tentu akan merupakan lawan catur yang ulet! Coba kaukemukakan syaratmu, orang muda."

Sebetulnya Bu Song bukanlah termasuk orang muda yang suka banyak bicara, bukan pula pandai berdebat. Kalau sekarang ia bersikap demikian adalah semata-mata terdorong oleh pengertian yang timbul dari ketenangannya bahwa hanya dengan cara ini sajalah agaknya ia dapat menghadapi kakek ini!

"Begini syarat taruhanku, Bu Tek Lojin. Kalau aku kalah bermain catur denganmu, biarlah takluk dan menyerah kepadamu. Akan tetapi kalau kau yang kalah, kau harus pergi tinggalkan aku dan jangan mengganggu lagi, jangan minta benda emas atau suling segala macam dan jangan membunuh atau melukaiku! Coba pertimbangkan, kalau aku kalah, aku hanya minta engkau pergi dan aku tidak mengganggumu. Sebaliknya kalau aku kalah, aku takluk kepadamu dan menyerah. Bukankah ini berarti aku sudah banyak mengalah kepadamu?"

Kakek itu menggaruk-garuk jenggotnya yang putih dan tebal, mendapatkan seekor semut yang entah bagaimana tahu-tahu tersesat ke tempat itu, dengan gemas memencet semut itu hancur di antara kedua jarinya. Ia mengangguk-angguk. "Kongto, kongto (adil, adil). Mari kita mulai!"

Bu Song menarik napas lega. Setidaknya, bahaya pertama sudah dapat diatasi. Ia dapat menghadapi kakek ini bermain catur dengan tenang. Kalau ia menang nanti, ia bebas. Kalau kalah, ia masih dapat melihat keadaan. Kalau kakek itu tidak membunuhnya, tentu saja hal itu baik sekali. Kalau kakek itu akan membunuhnya, tentu saja ia tidak akan tinggal diam dan mati konyol!

Bersambung Jilid ke-74

About this entry

Fallow me

 

About me | Author Contact | Powered By Blogspot | © Copyright  2009